Showing posts with label paritta - chanting. Show all posts
Showing posts with label paritta - chanting. Show all posts

Thursday, June 5, 2025

Saddhābalena Citta-Visuddhi Paritta

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa.

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa.

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa.


Buddhaṃ dhammaṃ ariya-saṅghaṃ ca vandāmi,

Sakkaccaṃ pasannacitto, garuṃ katvā namassāmi.

Buddhānubhāvena, dhammānubhāvena, ariya-saṅghānubhāvena,

Pasannacittena me citta-dvāraṃ vivatatu.


Puññamaggassa ca paṭipadāya maggaṃ dassetu.

Sujanapathaṃ āgamma, sotthī bhavatu.

Sabbupaddavato parimuccatu.

Pāpakammaggaho ca pāpaggaho ca sabbo vimuccatu.

Sukhī hotu, dhammiko hotu, dhammamokkhaṃ pāpuṇātu.


Saddhābalena me cittaṃ visuddhaṃ hotu, obhāsitaṃ ca.


Saddhābalena me cittaṃ kilesānaṃ pahānāya nibbattatu.



Pahīyantu me 

Lobho — saṅkilesiko taṇhāyo janako,

Doso — paṭighasamuppanno veraṃ janako,

Moho — aññāṇamūlako sammā-dassana-vināsako,

Kodho — cittassa ubbegako sajotibhūto,

Makkho — parassa guṇaṃ avajānanto,

Māno — attukkaṃsana-paravambhanavasena uppanno.


Suddhacittena viharanto, anāgāmitā me hotu.

Itthattāya puna na āgamissāmi.

Sadhu! Sadhu! Sadhu!


===============


Puji hormat kepada Sang Bhagavā, Yang Suci, Yang Sempurna dan Sepenuhnya Tercerahkan.

(Pembacaan dilakukan tiga kali sebagai bentuk penghormatan.)


Aku bersujud kepada Buddha, Dhamma, dan Ariya Saṅgha,

Dengan penuh keyakinan, hormat, dan penghargaan yang tulus aku memuliakan mereka.


Dengan kekuatan Buddha, kekuatan Dhamma, dan kekuatan Ariya Saṅgha,
Biarlah pintu batinku terbuka dengan hati yang percaya dan penuh keyakinan.
Semoga jalan menuju kebajikan dan kemurnian menjadi terang bagiku.
Semoga aku berjalan di jalan para bijaksana,
Hidup dalam keselamatan dan perlindungan.
Terbebas dari semua bahaya dan penderitaan.
Terbebas dari segala perbuatan jahat dan akibatnya.
Semoga aku hidup bahagia, menjadi orang yang menjunjung Dhamma,
Dan mencapai pembebasan melalui Dhamma.


Dengan kekuatan Saddhā (keyakinan) pikiranku menjadi jernih dan bercahaya.
Dengan kekuatan Saddhā-ku, biarlah pikiranku mengarah kepada penghancuran segala noda batin.



Biarlah lenyap dari diriku:

Lobha — keserakahan, yang mengikat batin dengan nafsu dan keinginan,

Dosa — kebencian dan permusuhan, yang menyebabkan kerusakan batin dan hubungan,

Moha — kegelapan batin, delusi, dan kebingungan yang menutupi kebenaran,

Kodha — kemarahan membara, yang mengguncang dan membakar hati,

Makkha — sifat meremehkan atau menganggap rendah jasa/kebaikan orang lain,

Māna — keangkuhan, rasa lebih tinggi dari orang lain, dan kesombongan batin.


Dengan pikiran yang telah dimurnikan,

Semoga aku mencapai tingkat ketidak-kembalian (Anāgāmī),

Dan tidak kembali lagi ke dalam kehidupan duniawi ini.

Sadhu! Sadhu! Sadhu!

Sunday, September 1, 2024

Sundari Sutta

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Sang Bhagava dihormati, dipuja, dimuliakan, dihargai dan disembah, dan merupakan orang yang terpenuhi kebutuhan hidup Nya (jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan). Dan bhikkhu sangha juga dihormati …..


Tetapi para pertapa kelana aliran lain tidak dihormati, dipuja, dimuliakan, dihargai dan disembah, dan mereka tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya akan jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Kemudian para pertapa kelana aliran lain itu, karena tidak dapat mentoleransi rasa hormat yang ditunjukkan banyak orang terhadap Sang Bhagava dan bhikkhu sangha, mendekati Sundari si pertapa kelana wanita dan berkata, 


“Saudari, maukah anda melakukan sesuatu yang berguna bagi kerabatmu?”

“Apa yang dapat saya lakukan, tuan-tuan? Apa yang dapat saya lakukan? Saya akan mengorbankan bahkan hidup saya demi kerabat-kerabat saya.”

“Kalau demikian, saudari, seringlah pergi ke Hutan Jeta.”

“Baiklah, tuan-tuan,” 


Sundari si pertapa kelana wanita itu menjawab, dan dia sering pergi ke Hutan Jeta. Kemudian, ketika para pertapa kelana itu mengetahui bahwa Sundari si pertapa kelana wanita telah dilihat banyak orang sering pergi ke Hutan Jeta, mereka membunuhnya dan menguburnya di sana, di sebuah lubang yang digali di parit Hutan Jeta. Kemudian mereka pergi ke Raja Pasenadi dari Kosala dan berkata, 


“Raja yang Agung, Sundari si pertapa kelana wanita tidak dapat ditemukan.”

“Kamu curiga dia berada di mana?”

“Di Hutan Jeta, Paduka Raja.”

“Kalau begitu, periksa Hutan Jeta.”


Waktu memeriksa Hutan Jeta para pertapa kelana itu menggali mayat Sundari dari lubang di parit tempat dia dikuburkan, dan meletakkannya di tandu, dan membawanya ke Savatthi. Waktu berjalan dari jalan ke jalan dan dari perempatan ke perempatan, mereka menimbulkan kemarahan orang-orang dengan mengatakan: 


“Lihatlah, tuan-tuan, pekerjaan para pengikut putra Sakya. Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, adalah orang yang tidak tahu malu, tidak bermoral, tidak baik kelakuannya, pembohong, bukan penganut kehidupan suci. 


Mereka menyatakan bahwa mereka hidup dengan Dhamma, bahwa mereka menjalani kehidupan yang seimbang, bahwa mereka menjalani kehidupan suci, bahwa mereka adalah pembicara-pembicara kebenaran, bahwa mereka saleh dan berkelakuan baik, tetapi mereka tidak pantas sebagai pertapa, mereka tidak pantas sebagai brahmana; status pertapa mereka rusak, status brahmana mereka rusak. 


Dimana status pertapa mereka? Dimana status brahmana mereka? Mereka telah kehilangan status pertapa mereka, mereka telah kehilangan status brahmana mereka. Bagaimana seorang laki-laki, setelah menikmati kepuasan lelakinya, membunuh seorang wanita?”


Karena ini, ketika orang-orang melihat para bhikkhu di Savatthi, 

mereka mencerca, memaki, menghasut dan menjengkelkan mereka dengan hinaan dan kata-kata kasar: 


“Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, tidak punya malu, tidak bermoral, berkelakuan buruk ….. Bagaimana seorang laki-laki, setelah menikmati kepuasan lelakinya, membunuh seorang wanita?”


Kemudian sejumlah bhikkhu, setelah mengenakan jubah sebelum siang hari dan mengambil mangkuk serta jubah luarnya, memasuki Savatthi untuk mengumpulkan makanan dan kembali; setelah bersantap, mereka mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan berkata: “Saat ini, Bhante, bila orang-orang melihat bhikkhu di Savatthi, mereka mencerca, memaki, menghasut, dan menjengkelkan mereka dengan hinaan-hinaan dan kata-kata kasar…..”


“Kegemparan ini, O, bhikkhu, tidak akan berlangsung lama. Ini akan berlangsung hanya selama tujuh hari, dan setelah itu akan lenyap. Jadi, O, bhikkhu, bila orang-orang mencerca para bhikkhu, memaki, menghasut dan menjengkelkan mereka dengan hinaan-hinaan dan kata-kata kasar, kamu harus menanggapi dengan syair ini:

Penuduh salah pergi ke neraka,
Dan juga ia yang menyangkal perbuatan yang telah ia lakukan,
Keduanya ini menjadi sama di sana,
Manusia yang perbuatannya tidak terhormat akan berada di alam sana.


Maka para bhikkhu itu mempelajari syair ini di hadapan Sang Bhagava, dan ketika orang-orang itu, waktu melihat para bhikkhu, mencerca mereka, mereka menanggapi dengan syair itu.


Kemudian orang-orang itu berpikir: 

“Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, tidak melakukannya; itu tidak dilakukan oleh mereka. Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, sedang menegaskan (ketidak-salahan mereka).” 

Dan kegemparan itu berlangsung hanya selama tujuh hari, dan setelah itu, lenyap.


Kemudian sejumlah bhikkhu mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi, dan berkata:

“Bagus sekali, Bhante! Luar biasa! Alangkah bagusnya hal ini diramalkan Sang Bhagava: ‘Kegemparan ini, O, bhikkhu, tidak akan berlangsung lama. Setelah tujuh hari akan lenyap.’ Bhante, kegemparan itu telah lenyap.”


Kemudian, karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:


Bersabarlah oh para siswa,

manakala mendengar ucapan kasar yang menusuk hati,

diutarakan oleh orang-orang yang tidak menunjung tinggi kebajikan dan keluhuran,

jangan biarkan niat jahat ataupun amarah (kemurkaan) merajalela didalam batin,

bagaikan pasukan gajah perang

yang menahan dan meruntuhkan hujan anak panah."




Source:
tipiṭaka, suttapiṭaka, khuddakanikāya, udānapāḷi, 4. meghiyavaggo, 8. sundarīsuttaṃ.
तिपिटक, सुत्तपिटक, खुद्दकनिकाय, उदानपाळि, ४। मेघियवग्गो, ८। सुन्दरीसुत्तं।
大藏经, 经藏, 小部经典, 自说部, 第四篇 梅希耶篇, 第八经 美丽经



8. Sundarīsuttaṃ

38. Evaṃ me sutaṃ – ekaṃ samayaṃ bhagavā sāvatthiyaṃ viharati jetavane anāthapiṇḍikassa ārāme. Tena kho pana samayena bhagavā sakkato hoti garukato mānito pūjito apacito lābhī cīvarapiṇḍapātasenāsanagilānapaccayabhesajjaparikkhārānaṃ . Bhikkhusaṅghopi sakkato hoti garukato mānito pūjito apacito lābhī cīvarapiṇḍapātasenāsanagilānapaccayabhesajjaparikkhārānaṃ. Aññatitthiyā pana paribbājakā asakkatā honti agarukatā amānitā apūjitā anapacitā na lābhino cīvarapiṇḍapātasenāsanagilānapaccayabhesajjaparikkhārānaṃ.

Atha kho te aññatitthiyā paribbājakā bhagavato sakkāraṃ asahamānā bhikkhusaṅghassa ca yena sundarī paribbājikā tenupasaṅkamiṃsu; upasaṅkamitvā sundariṃ paribbājikaṃ etadavocuṃ – ‘‘ussahasi tvaṃ, bhagini, ñātīnaṃ atthaṃ kātu’’nti? ‘‘Kyāhaṃ, ayyā, karomi? Kiṃ mayā na sakkā [kiṃ mayā sakkā (syā. pī.)] kātuṃ? Jīvitampi me pariccattaṃ ñātīnaṃ atthāyā’’ti.

‘‘Tena hi, bhagini, abhikkhaṇaṃ jetavanaṃ gacchāhī’’ti. ‘‘Evaṃ, ayyā’’ti kho sundarī paribbājikā tesaṃ aññatitthiyānaṃ paribbājakānaṃ paṭissutvā abhikkhaṇaṃ jetavanaṃ agamāsi.

Yadā te aññiṃsu aññatitthiyā paribbājakā – ‘‘vodiṭṭhā kho sundarī paribbājikā bahujanena abhikkhaṇaṃ jetavanaṃ gacchatī’’ti [gacchatīti (sī. syā. kaṃ. pī.)]. Atha naṃ jīvitā voropetvā tattheva jetavanassa parikhākūpe nikkhipitvā [nikhanitvā (sī. syā. pī.)] yena rājā pasenadi kosalo tenupasaṅkamiṃsu; upasaṅkamitvā rājānaṃ pasenadiṃ kosalaṃ etadavocuṃ – ‘‘yā sā, mahārāja, sundarī paribbājikā; sā no na dissatī’’ti. ‘‘Kattha pana tumhe āsaṅkathā’’ti ? ‘‘Jetavane, mahārājā’’ti. ‘‘Tena hi jetavanaṃ vicinathā’’ti.

Atha kho te aññatitthiyā paribbājakā jetavanaṃ vicinitvā yathānikkhittaṃ parikhākūpā uddharitvā mañcakaṃ āropetvā sāvatthiṃ pavesetvā rathiyāya rathiyaṃ siṅghāṭakena siṅghāṭakaṃ upasaṅkamitvā manusse ujjhāpesuṃ –

‘‘Passathāyyā samaṇānaṃ sakyaputtiyānaṃ kammaṃ! Alajjino ime samaṇā sakyaputtiyā dussīlā pāpadhammā musāvādino abrahmacārino. Ime hi nāma dhammacārino samacārino brahmacārino saccavādino sīlavanto kalyāṇadhammā paṭijānissanti! Natthi imesaṃ sāmaññaṃ, natthi imesaṃ brahmaññaṃ. Naṭṭhaṃ imesaṃ sāmaññaṃ, naṭṭhaṃ imesaṃ brahmaññaṃ. Kuto imesaṃ sāmaññaṃ, kuto imesaṃ brahmaññaṃ? Apagatā ime sāmaññā, apagatā ime brahmaññā. Kathañhi nāma puriso purisakiccaṃ karitvā itthiṃ jīvitā voropessatī’’ti!

Tena kho pana samayena sāvatthiyaṃ manussā bhikkhū disvā asabbhāhi pharusāhi vācāhi akkosanti paribhāsanti rosanti vihesanti –

‘‘Alajjino ime samaṇā sakyaputtiyā dussīlā pāpadhammā musāvādino abrahmacārino . Ime hi nāma dhammacārino samacārino brahmacārino saccavādino sīlavanto kalyāṇadhammā paṭijānissanti! Natthi imesaṃ sāmaññaṃ, natthi imesaṃ brahmaññaṃ. Naṭṭhaṃ imesaṃ sāmaññaṃ, naṭṭhaṃ imesaṃ brahmaññaṃ. Kuto imesaṃ sāmaññaṃ, kuto imesaṃ brahmaññaṃ? Apagatā ime sāmaññā, apagatā ime brahmaññā. Kathañhi nāma puriso purisakiccaṃ karitvā itthiṃ jīvitā voropessatī’’ti!

Atha kho sambahulā bhikkhū pubbaṇhasamayaṃ nivāsetvā pattacīvaramādāya sāvatthiṃ piṇḍāya pāvisiṃsu. Sāvatthiyaṃ piṇḍāya caritvā pacchābhattaṃ piṇḍapātapaṭikkantā yena bhagavā tenupasaṅkamiṃsu; upasaṅkamitvā bhagavantaṃ abhivādetvā ekamantaṃ nisīdiṃsu. Ekamantaṃ nisinnā kho te bhikkhū bhagavantaṃ etadavocuṃ –

‘‘Etarahi, bhante, sāvatthiyaṃ manussā bhikkhū disvā asabbhāhi pharusāhi vācāhi akkosanti paribhāsanti rosanti vihesanti – ‘alajjino ime samaṇā sakyaputtiyā dussīlā pāpadhammā musāvādino abrahmacārino. Ime hi nāma dhammacārino samacārino brahmacārino saccavādino sīlavanto kalyāṇadhammā paṭijānissanti. Natthi imesaṃ sāmaññaṃ, natthi imesaṃ brahmaññaṃ. Naṭṭhaṃ imesaṃ sāmaññaṃ, naṭṭhaṃ imesaṃ brahmaññaṃ. Kuto imesaṃ sāmaññaṃ, kuto imesaṃ brahmaññaṃ? Apagatā ime sāmaññā, apagatā ime brahmaññā. Kathañhi nāma puriso purisakiccaṃ karitvā itthiṃ jīvitā voropessatī’’’ti!

‘‘Neso, bhikkhave, saddo ciraṃ bhavissati sattāhameva bhavissati. Sattāhassa accayena antaradhāyissati. Tena hi, bhikkhave, ye manussā bhikkhū disvā asabbhāhi pharusāhi vācāhi akkosanti paribhāsanti rosanti vihesanti, te tumhe imāya gāthāya paṭicodetha –

‘‘‘Abhūtavādī nirayaṃ upeti,

Yo vāpi [yo cāpi (sī. pī. ka.)] katvā na karomi cāha;

Ubhopi te pecca samā bhavanti,

Nihīnakammā manujā paratthā’’’ti.

Atha kho te bhikkhū bhagavato santike imaṃ gāthaṃ pariyāpuṇitvā ye manussā bhikkhū disvā asabbhāhi pharusāhi vācāhi akkosanti paribhāsanti rosanti vihesanti te imāya gāthāya paṭicodenti –

‘‘Abhūtavādī nirayaṃ upeti,

Yo vāpi katvā na karomicāha;

Ubhopi te pecca samā bhavanti,

Nihīnakammā manujā paratthā’’ti.

Manussānaṃ etadahosi – ‘‘akārakā ime samaṇā sakyaputtiyā. Nayimehi kataṃ. Sapantime samaṇā sakyaputtiyā’’ti. Neva so saddo ciraṃ ahosi. Sattāhameva ahosi. Sattāhassa accayena antaradhāyi.

Atha kho sambahulā bhikkhū yena bhagavā tenupasaṅkamiṃsu; upasaṅkamitvā bhagavantaṃ abhivādetvā ekamantaṃ nisīdiṃsu. Ekamantaṃ nisinnā kho te bhikkhū bhagavato etadavocuṃ –

‘‘Acchariyaṃ, bhante, abbhutaṃ, bhante! Yāva subhāsitaṃ cidaṃ bhante bhagavatā – ‘neso, bhikkhave, saddo ciraṃ bhavissati. Sattāhameva bhavissati. Sattāhassa accayena antaradhāyissatī’ti. Antarahito so, bhante, saddo’’ti.

Atha kho bhagavā etamatthaṃ viditvā tāyaṃ velāyaṃ imaṃ udānaṃ udānesi –

‘‘Tudanti vācāya janā asaññatā,

Sarehi saṅgāmagataṃva kuñjaraṃ;

Sutvāna vākyaṃ pharusaṃ udīritaṃ,

Adhivāsaye bhikkhu aduṭṭhacitto’’ti. aṭṭhamaṃ;

Monday, May 27, 2024

Dhammanusati

 स्वाक्खातो भगवता धम्मो,

सन्दिट्ठिको अकालिको एहिपस्सिको,

ओपनयिको पच्चत्तं वेदितब्बो विञ्ञूहीति।

Svākkhāto bhagavatā dhammo,

Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko,

Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti.


1. Svākkhāto bhagavatā dhammo

Svākkhāto:

Arti: "Dijelaskan dengan baik" atau "dijabarkan dengan baik".

Penjelasan: Kata ini menekankan bahwa ajaran Buddha disampaikan dengan sangat jelas, tepat, dan mendetail. Buddha sebagai seorang guru memiliki kemampuan luar biasa untuk menjelaskan Dharma (ajaran) dengan cara yang mudah dipahami dan diikuti oleh para pengikutnya.


Bhagavatā:

Arti: "Oleh Yang Mulia (Bhagava)".

Penjelasan: Kata ini merujuk kepada Buddha, yang sering disebut sebagai "Yang Mulia (Bhagava)" atau "Yang Tercerahkan". Ini menekankan otoritas dan kebijaksanaan dari Buddha sebagai sumber ajaran yang terpercaya.


Dhammo:

Arti: "Dharma" atau "Ajaran".

Penjelasan: Dharma merujuk kepada ajaran atau doktrin yang diajarkan oleh Buddha. Ini mencakup semua prinsip etika, meditasi, dan kebijaksanaan yang diajarkan untuk mencapai pencerahan.


Keseluruhan Frasa:

Arti: "Dharma dijelaskan dengan baik oleh Yang Mulia (Bhagava)."

Penjelasan: Frasa ini menekankan bahwa ajaran Buddha adalah komprehensif dan dapat dipercaya, disampaikan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami oleh semua orang.


2. Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko

Sandiṭṭhiko:

Arti: "Terlihat di sini dan sekarang" atau "dapat dilihat di sini dan sekarang".

Penjelasan: Ajaran Buddha tidak hanya relevan di masa lalu atau masa depan, tetapi dapat dialami langsung pada saat ini. Praktisi dapat melihat hasil dari praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari.


Akāliko:

Arti: "Tidak terikat oleh waktu" atau "abadi".

Penjelasan: Ajaran Buddha tidak terbatas oleh waktu. Prinsip-prinsip yang diajarkan adalah universal dan berlaku sepanjang masa, tidak hanya relevan pada zaman Buddha tetapi juga pada masa kini dan masa depan.


Ehipassiko:

Arti: "Mengundang untuk datang dan melihat".

Penjelasan: Buddha mengajak semua orang untuk memeriksa ajarannya sendiri, bukan hanya menerima berdasarkan kepercayaan buta. Ini adalah ajakan untuk mengalami dan menguji kebenaran ajaran secara langsung.


Keseluruhan Frasa:

Arti: "Terlihat di sini dan sekarang, tidak terikat oleh waktu, mengundang untuk datang dan melihat."

Penjelasan: Frasa ini menekankan tiga kualitas utama dari Dharma:

Relevansi langsung: Ajaran dapat dilihat dan dialami pada saat ini.

Abadi: Ajaran tersebut tidak terbatas oleh waktu dan selalu relevan.

Diundang untuk mengalami: Setiap orang diajak untuk memeriksa dan mengalami kebenaran ajaran Buddha secara langsung.


Kombinasi Penjelasan dalam Bahasa Indonesia

Svākkhāto bhagavatā dhammo,

"Dharma dijelaskan dengan baik oleh Yang Mulia (Bhagava),"

Penjelasan: Ajaran Buddha dijabarkan dengan cara yang sangat jelas dan dapat dipercaya, memungkinkan para pengikutnya untuk memahami dan mengikuti ajaran tersebut dengan mudah.

Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko,

"Terlihat di sini dan sekarang, tidak terikat oleh waktu, mengundang untuk datang dan melihat."

Penjelasan: Ajaran Buddha dapat dialami langsung pada saat ini, selalu relevan tanpa terbatas oleh waktu, dan setiap orang diundang untuk memeriksa dan menguji kebenaran ajaran tersebut sendiri.


Kesimpulan

Frasa "Svākkhāto bhagavatā dhammo, Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko" menggambarkan kualitas-kualitas utama dari ajaran Buddha. Ajaran tersebut dijelaskan dengan baik oleh Buddha, dapat dialami langsung pada saat ini, bersifat abadi, dan mengundang setiap orang untuk datang dan melihat kebenarannya. Ini menekankan pentingnya pengalaman langsung dan pemahaman pribadi dalam praktik Buddhisme, serta relevansi ajaran yang abadi sepanjang waktu.


'Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti' ke dalam Bahasa Indonesia:


Terjemahan

"Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti" dapat diterjemahkan sebagai:

"Untuk dibawa ke dalam dan direalisasikan secara pribadi oleh orang yang bijaksana."

Atau lebih rinci:

"Ajaran ini harus dibawa ke dalam diri dan diketahui secara pribadi oleh orang bijak."


Penjelasan dalam Bahasa Indonesia

Frasa ini sering digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat dari Dharma, atau ajaran Buddha, yang menekankan pentingnya pengalaman pribadi dan pemahaman individu dalam praktik Buddhisme.


Komponen dan Artinya:

1) Opanayiko:

Diterjemahkan sebagai "mengarah ke dalam" atau "untuk dibawa ke dalam."

Ini menunjukkan bahwa ajaran tersebut membimbing praktisi menuju pemahaman dan realisasi yang lebih dalam.


2) Paccattaṃ:

Diterjemahkan sebagai "secara pribadi" atau "individual."

Ini menekankan aspek pribadi dari pengalaman tersebut, menunjukkan bahwa ajaran tersebut harus dipahami dan direalisasikan secara individu.


3) Veditabbo:

Diterjemahkan sebagai "untuk diketahui" atau "untuk direalisasikan."

Ini menunjukkan bahwa ajaran tersebut harus diketahui atau dialami secara langsung.


4) Viññūhī:

Diterjemahkan sebagai "oleh orang bijaksana" atau "oleh mereka yang memiliki wawasan."

Ini menunjukkan bahwa pengetahuan atau realisasi ini dapat diakses oleh mereka yang bijaksana atau memiliki kemampuan untuk memahami.


5) ‘ti:

Partikel yang sering digunakan untuk menandai akhir dari suatu kutipan atau untuk menunjukkan bahwa frasa sebelumnya adalah sebuah kutipan.


Konteks dalam Buddhisme

Frasa ini sering digunakan untuk menggambarkan kualitas Dharma, menekankan bahwa ajaran ini dimaksudkan untuk membawa praktisi menuju wawasan dan realisasi pribadi. Ini menekankan pentingnya:


1) Internalisasi: 

Ajaran ini bukan hanya teori atau eksternal; mereka harus diinternalisasi dan dialami dalam diri seseorang.

2) Pengalaman Pribadi: Setiap praktisi harus mencapai pemahaman mereka sendiri melalui pengalaman langsung.

3) Kebijaksanaan dan Wawasan: Mereka yang memiliki kebijaksanaan atau kemampuan untuk membedakan didorong untuk terlibat secara mendalam dengan ajaran untuk merealisasikan kebenarannya.

Penerapan dalam Praktik

4) Meditasi dan Kesadaran Penuh (Mindfulness): Praktisi didorong untuk menerapkan ajaran dalam kehidupan mereka melalui praktik seperti meditasi dan kesadaran penuh untuk mendapatkan wawasan pribadi.

5) Perilaku Etis: Hidup sesuai dengan ajaran etis Buddhisme membantu memfasilitasi pemahaman dan realisasi pribadi.

5) Studi dan Refleksi: Terlibat dengan ajaran melalui studi dan refleksi memungkinkan individu untuk menginternalisasi dan merealisasikan maknanya dengan lebih mendalam.


Relevansi Dalam Kehidupan

Dalam praktik kontemporer, frasa ini memperkuat pentingnya keterlibatan pribadi dan pengalaman langsung dalam memahami kebenaran spiritual. Ini sejalan dengan penekanan pada penyelidikan empiris dan pertumbuhan pribadi, yang dihargai dalam konteks spiritual dan sekuler modern.


Secara keseluruhan, "Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti" menekankan kebutuhan akan realisasi pribadi dan internalisasi ajaran melalui pengalaman langsung dan kebijaksanaan. Ini menyoroti sifat dinamis dan individual dari jalan menuju pencerahan dalam Buddhisme.

Monday, May 6, 2024

An Invitation to the Devas (Devārādhanā)

TO BE USED WHEN CHANTING IN THE MAGADHA STYLE: 


Samantā cakkavāḷesu

Atr’āgacchantu devatā.

Saddhammaṁ muni-rājassa

Suṇantu sagga-mokkhadaṁ.


From all around the galaxies, 

may the devas come here.

May they listen to the True Dhamma of the King of Sages,

leading to heaven & emancipation.


Sagge kāme ca rūpe

Giri-sikharataṭe c’antalikkhe vimāne,

Dīpe raṭṭhe ca gāme

Taruvana-gahane geha-vatthumhi khette,


Those in the heavens of sensuality & form,

on peaks & mountain precipices, in palaces floating in the sky,

in islands, countries, & towns,

in groves of trees & thickets, around homesites & fields.


Bhummā c’āyantu devā

Jala-thala-visame yakkha-gandhabba-nāgā,

Tiṭṭhantā santike yaṁ:

Muni-vara-vacanaṁ sādhavo me suṇantu.


And the earth-devas, spirits, gandhabbas, & nāgas

in water, on land, in badlands, & standing nearby:

May they come & listen with approval

as I recite the word of the excellent sage.


Buddha-dassana-kālo ayam-bhadantā.

Dhammassavana-kālo ayam-bhadantā.

Saṅgha-payirupāsana-kālo ayam-bhadantā.


This is the time to see to the Buddha, venerable ones.

This is the time to listen to the Dhamma, venerable ones.

This is the time to attend to the Saṅgha, venerable ones.


================


Pharitvāna mettaṁ samettā bhadantā

Avikkhitta-cittā parittaṁ bhaṇantu.


Having spread goodwill, benevolent venerable ones,

listen to protection with unscattered minds.


Sagge kāme ca rūpe

Giri-sikharataṭe c’antalikkhe vimāne,

Dīpe raṭṭhe ca gāme

Taruvana-gahane geha-vatthumhi khette,


Bhummā c’āyantu devā

Jala-thala-visame yakkha-gandhabba-nāgā,

Tiṭṭhantā santike yaṁ:

Muni-vara-vacanaṁ sādhavo me suṇantu.


Buddha-dassana-kālo ayam-bhadantā.

Dhammassavana-kālo ayam-bhadantā.

Saṅgha-payirupāsana-kālo ayam-bhadantā.*


* When chanting outside of a monastery, instead of chanting all three of these last lines, simply repeat, “Dhammassavana-kālo ayam-bhadantā” three times. This is custom is observed regardless of which style of chanting is used.


Sunday, December 31, 2023

BUDDHA MAṄGALA GĀTHĀ




सम्बुद्धो दिपदं सेट्ठो
निसिन्नो चेव मज्झिमे
कोण्डञ्ञो पुब्बभागे च
आगणेय्ये च कस्सपो

सारिपुत्तो च दक्खिणे
हरतिये उपालि च
पच्छिमे पि च आनन्दो
बायब्बे च गवम्पति

मोग्गल्लानो च उत्तरे
ईसाने पि च राहुलो:
इमे खो मङ्गला बुद्धा
सब्बे इध पतिट्ठिता

वन्दिता ते च अम्हेहि
सक्कारेहि च पूजिता।
एतेसं आनुभावेन
सब्ब सोत्थी भवन्तु नो।

इच्चेवम् अच्चन्तनमस्सनेय्यं
नमस्समानो रतनत्तयं यं
पुञ्ञाभिसन्दं विपुलं अलत्थं, 
तस्सानुभावेन हतन्तरायो।

Sang Buddha yang sepenuhnya tercerahkan, yang terbaik di antara dua kaki,
duduk di tengah-tengah.
Kondañña berada di sebelah timur,
dan Kassapa di sebelah tenggara.

Sariputta berada di sebelah selatan,
dan Upali di barat daya.
Ananda berada di sebelah barat,
dan Gavampati di barat laut.

Moggallana berada di utara,
dan Rahula di timur laut:
Inilah para Buddha yang mulia,
semua hadir di sini.

Mereka dihormati oleh kami,
dengan hormat dan penghormatan.
Dengan kekuatan mereka,
semoga semua kesejahteraan menjadi milik kami.

Dengan demikian, menghormati yang layak dihormati,
menghormati Tiga Permata,
mendapatkan kebajikan yang melimpah,
dengan kekuatan itu, semua bahaya akan sirna.




Tuesday, December 12, 2023

Pattidana


Imaṁ no puññabhāgaṁ

This our merits portion

Jasa kebajikan ini kami limpahkan kepada


Mātāpitūnañca

Father and mother

ayah dan ibu


ācariyānañca

the teachers as well

dan juga para guru pembimbing


sabba sattānañca

and all sentient beings

dan semua mahluk


sabba mittānañca 

all the good friends as well

dan juga seluruh teman-teman


sabba ñātīnañca 

and all the relatives as well

dan juga sanak keluarga


sabba petānañca 

all the departed ones and spirits

mahluk dari alam peta


sabba devatānañca,

and all the gods as well

serta para dewa,


bhājema...

sādhu, sādhu, sādhu



Words Explication:

nañca is used to convey the meaning of "and" or "as well as." It is similar in function to the Sanskrit suffix "-cha" or the English conjunction "and." When attached to words, it signifies an additional or inclusive element, indicating a combination of things.

  1. Imaṁ: This is a demonstrative pronoun meaning "this."

  2. no: This is a pronoun meaning "our."

  3. puññabhāgaṁ:

      • Puñña: Merit or virtue.
      • bhāgaṁ: Portion or share. 

bhājema

The verb "bhājema" is derived from the root "bhāj," which literally means cut and divided. which in a compounded word, it means "to share"; "to enjoy," or "to partake in." 

The specific form "bhājema" is the first person plural optative form, and it is often translated as "let us share" or "let everyone enjoy." The optative mood is used to express a good wish.

For example, if you come across the phrase "bhājema sādhu," it could be translated as "may we share the auspicious things (with you all)." 




pattidāna (पत्तिदान) 

(Sansekerta: pariṇāmanā (परिणामना))



Check out our post about Buddhist Aspiration after meditation

Aspirasi Dhamma 2


इदं मे पुञ्ञं आसवक्खयावहं होतु

Idaṁ me puññaṁ āsavakkhayāvahaṁ hotu.

With these goodnesses, let those defilements vanished

Dengan kebaikan-kebaikan ini, biarlah kekotoran batin lenyap


इदं मे पुञ्ञं मग्ग-फल-ञाणस्स पच्चयो होतु

Idaṁ me puññaṁ magga-phala-ñāṇassa paccayo hotu

Let this goodness be the basic foundation for me to walk in the Path, attain the holy fruition and gain the the highest insight.

Biarkan kebaikan ini menjadi landasan dasar bagi saya untuk (dengan kokoh) sejalan dalam Dhamma, mencapai buah suci dan memperoleh wawasan tertinggi.


इदं मे पुञ्ञं निब्बानस्स पच्चयो होतु.

Idaṁ me puññaṁ Nibbānassa paccayo hotu.

Let this goodness become the basic foundation for me to reach nibbana.

Biarkan kebaikan ini menjadi landasan dasar bagi saya untuk mencapai nibbana.


Word Bank

Idaṁ: this

me: mine/my

puññaṁ: merits, goodness, kindness

āsavakkhayāvahaṁ:

1. āsavakkhaya: Extinction or cessation of human passion or defilements. (āsava: taints, corruption's, intoxicant biases: noda, jahat/licik, delusi)

2. āvaha [adj.] (in cpds.) : bringing, bearing, conducive, lead to ... .

paccayo (paccaya): strong motive; ground faith, base reason.

hotu (bhavatu/hoti): to be; to become (exist); to take place; to befall.

magga: the path (Dhamma)
phala: Attain holy path; As 'path-result', or 'fruition', it donotes those moments of supermundane consciousness which flash forth immediately after the moment of path-consciousness (s.ariya-puggala) and which,till the attainment of the next higher path,may during the practice of insight (vipassanā,q.v.) still recur innumerable times.If thus repeated,they are called the 'attainment of fruition (phalasamāpatti),which is explained in detail in Vis.M.XXIII.

ñāṇassa (ñāṇa): knowledge, insight, comprehension. 


Click here to see what is Pattidana praying 

Aspirasi Dhamma 1 (Part of Uddhumātakakammaṭṭhānaṃ)

 अद्धा इमाय पटिपदाय

जरामरणम्हा परिमुच्‍चिस्सामी। 



Addhā imāya paṭipadāya

jarāmaraṇamhā parimuccissāmī


Word Bank:

  1. Addhā: indeed; certainly, truly. 
  2. Paṭipadā [fr. paṭi+pad]: pati means towards, pada means the path. It literally means walk in the (Dhamma) path.
  3. Jarāmaraṇato: old age and death. 
  4. Parimucci[aorof parimuccati] releasedfree from


Translation:

Through walking in the Dhamma path, it will certainly set you free from old age and death. (Refer to Nibbana)





सो आनिसंसदस्सावी रतनसञ्‍ञी हुत्वा चित्तीकारं उपट्ठपेत्वा सम्पियायमानो तस्मिं आरम्मणे चित्तं उपनिबन्धति ‘अद्धा इमाय पटिपदाय जरामरणम्हा परिमुच्‍चिस्सामी’ति। 

So ānisaṃsadassāvī ratanasaññī hutvā cittīkāraṃ upaṭṭhapetvā sampiyāyamāno tasmiṃ ārammaṇe cittaṃ upanibandhati ‘addhā imāya paṭipadāya jarāmaraṇamhā parimuccissāmī’ti

他见不净相的功德之后,作珍宝想,起恭敬而生喜爱置心于所缘中:『诚然依此行道,我将脱离生死』

'When he has established reverence for it by seeing its advantages and by perceiving it as a treasure and so come to love it, he anchors his mind upon that object: "Surely in this way I shall be liberated from birth and death cycle (attain Nibbana)".

Ketika dia telah menegakkan rasa hormat kepada pelatihan batin (Samādhi), dan telah melihat manfaatnya, menganggapnya seperti harta karun (yang berharga untuk dijaga), yang senantiasa merasa gembira berdiam di dalamnya (Samādhi). Kemudian, ia memusatkan pikirannya pada objek tersebut: “Tentunya dengan cara ini, saya akan terbebas dari siklus kelahiran dan kematian, serta mencapai Nibbana”.



Source

त्रिपिटक - अन्य - विसुद्धिमग्ग - विसुद्धिमग्ग- - . असुभकम्मट्ठाननिद्देसो - उद्धुमातककम्मट्ठानं - १०५.

Tipitaka - Anya - Visuddhimagga - Visuddhimagga-1 - 6. Asubhakammaṭṭhānaniddeso - Uddhumātakakammaṭṭhānaṃ - 105





Aspirasi 2

Pesan orang tua

Ayo ngelakoni apik, sing seneng weweh, (pokok'e nek kasih sesuatu aja diitung) aja nglarani atine uwong.
Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa.
"Sabar iku lire momot kuat nandhang sakening coba lan pandhadharaning urip. Sabar iku ingaran mustikaning laku." -
Ms. Shinta & Paribasan Jowo

Terjemahan

Mari melakukan kebaikan dan senang berdarma-bakti, jangan pernah dihitung-hitung kalau sudah berbuat baik.
Janganlah menyakiti hati orang lain.
Jadi orang jangan cuma merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.
"Sabar itu merupakan sebuah kemampuan untuk menahan segala macam godaan dalam hidup.
Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratnya bagaikan sebuah mustika
(sebuah hal yang sangat indah) dalam praktek kehidupan"
- Bu Shinta & Pepatah Jawa