Tuesday, June 9, 2026

Kebahagiaan pun Tercurah Kepadanya

 Kebahagiaan pun Tercurah Kepadanya

Artikel reflektif ini terinspirasi dan disusun berdasarkan perenungan atas ovādakathā Bhante Kheminda, serta diperkaya dengan rujukan Tipiṭaka, kitab komentar, dan kajian Abhidhamma Theravāda.

Sukhī hontu kalyāṇamittā.




Tayangan ini merupakan ovādakathā (wejangan singkat yang berisi nasihat) yang disampaikan oleh Bhante Kheminda dalam siaran langsung DBS. Melalui perenungan atas Cakka Sutta (AN 4.31), Bhante mengajak para umat untuk tidak hanya mengejar kebahagiaan, kekayaan, nama baik, atau keberhasilan duniawi, melainkan memahami sebab-sebab yang memungkinkan semua itu muncul dan berkembang.


Sering kali manusia memusatkan perhatian pada hasil. Kita menginginkan kehidupan yang damai, keluarga yang harmonis, kesehatan yang baik, rezeki yang cukup, serta batin yang bahagia. Namun, sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha, setiap akibat memiliki sebab. Kebahagiaan tidak muncul secara kebetulan. Keberhasilan tidak datang tanpa kondisi pendukung. Oleh karena itu, yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah hasilnya, melainkan sebab-sebab yang mengondisikan hasil tersebut.


Dalam Cakka Sutta, Sang Buddha mengajarkan empat "roda" (cattāri cakkāni) yang menopang kemajuan dan keberhasilan kehidupan seseorang. Keempat roda tersebut bukanlah keberuntungan yang turun dari langit, melainkan kondisi-kondisi yang perlu diusahakan dan dipelihara.


Empat Roda Penopang Kehidupan

Kitab komentar menjelaskan:

Cattāri cakkāni: patirūpadesavāso cakkaṃ, sappurisūpanissayo cakkaṃ, attasammāpaṇidhānaṃ cakkaṃ, pubbe katapuññatā cakkaṃ.


"Empat roda itu adalah: tinggal di tempat yang sesuai, bersandar pada orang-orang berbudi luhur, mengarahkan diri dengan benar, dan akumulasi kebajikan yang telah dilakukan sebelumnya."


Menariknya, keempat roda ini tidak berdiri sendiri. Masing-masing menjadi landasan bagi roda berikutnya. Kebajikan yang terkumpul mendukung seseorang untuk mengarahkan dirinya dengan benar. Pengarahan diri yang benar membawanya kepada pergaulan dengan orang-orang bijaksana. Pergaulan dengan orang-orang bijaksana membantunya tinggal di lingkungan yang sesuai bagi perkembangan Dhamma.


1. Tinggal di Tempat yang Sesuai (Patirūpadesavāsa)

Tempat yang sesuai bukan sekadar lokasi yang nyaman secara fisik. Yang lebih penting adalah apakah tempat tersebut mendukung pertumbuhan kebajikan dan perkembangan Dhamma.


Seseorang mungkin tinggal di lingkungan yang makmur, tetapi hampir tidak pernah mendengar Dhamma. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana bisa memperoleh kesempatan berharga untuk mendengarkan ajaran yang benar, bergaul dengan para praktisi yang baik, serta mengembangkan keyakinan dan kebajikan.


Tempat yang sesuai adalah tempat yang memudahkan seseorang bertemu Dhamma, mendengarkan Dhamma, mempraktikkan Dhamma, dan mengingat Dhamma.


Banyak orang menganggap kelahiran sebagai manusia sudah merupakan keberuntungan besar. Memang benar demikian. Namun kelahiran manusia saja belum cukup. Kehidupan yang berharga ini perlu dilengkapi dengan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan Dhamma. Tanpa itu, kehidupan dapat berlalu begitu saja tanpa menghasilkan perkembangan batin yang berarti.


2. Bersandar pada Orang-Orang Berbudi Luhur (Sappurisūpanissaya)

Roda kedua adalah bersandar pada orang-orang yang berbudi luhur.


Dalam makna tertinggi, yang dimaksud adalah bersandar pada Buddha, Dhamma, dan para Ariya. Pada masa kini, ketika Buddha telah Parinibbāna, kita masih dapat bersandar kepada Beliau melalui Dhamma dan Vinaya yang diwariskan dalam Tipiṭaka beserta tradisi penjelasannya yang benar.

Seseorang akan sangat dipengaruhi oleh apa yang ia dengar, siapa yang ia ikuti, dan apa yang ia jadikan pedoman hidup. Karena itu, penting untuk bertanya kepada diri sendiri:


Apakah saya lebih tertarik mendengar hal-hal yang menyenangkan telinga, ataukah saya sungguh ingin memahami Dhamma sebagaimana adanya?


Bersandar kepada orang-orang berbudi luhur berarti membuka hati untuk belajar, menerima koreksi, dan menghargai kebijaksanaan yang lebih tinggi daripada pandangan pribadi.


3. Mengarahkan Diri dengan Benar (Attasammāpaṇidhāna)

Roda ketiga adalah mengarahkan diri dengan benar.


Ini adalah usaha sadar untuk terus memperbaiki diri.

Apabila keyakinan masih lemah, maka keyakinan perlu diperkuat.

Apabila sila masih rapuh, maka sila perlu ditegakkan.

Apabila kemurahan hati masih kurang, maka kemurahan hati perlu dilatih.

Apabila rasa hormat kepada Dhamma belum tumbuh dengan baik, maka rasa hormat itu perlu dipupuk.

Tidak ada seorang pun yang langsung sempurna. Jalan Dhamma adalah proses pembelajaran dan penyempurnaan diri yang berlangsung terus-menerus.


Di sinilah nilai-nilai Dhamma menjadi sangat penting untuk dihidupkan dalam keseharian:

  • Rasa syukur atas kesempatan bertemu Buddha Dhamma.
  • Keyakinan yang teguh kepada hukum kamma dan buahnya.
  • Ketulusan dalam berbuat baik tanpa pamrih.
  • Kasih sayang kepada semua makhluk.
  • Pemaafan terhadap kesalahan diri sendiri maupun orang lain.
  • Kesabaran dalam menghadapi perubahan dan kesulitan.
  • Penerimaan terhadap kenyataan sebagaimana adanya.
  • Kepasrahan yang bijaksana terhadap hukum sebab-akibat yang bekerja dalam kehidupan.


Ketika nilai-nilai ini tumbuh dalam hati, Dhamma tidak lagi sekadar menjadi pengetahuan, melainkan menjadi karakter.


4. Akumulasi Kebajikan (Pubbe Katapuññatā)

Roda keempat adalah kebajikan yang telah dikumpulkan.


Kitab komentar menjelaskan bahwa kebajikan hendaknya dilakukan dengan kesadaran yang disertai pemahaman (ñāṇasampayutta), yaitu dengan mengetahui bahwa tindakan tersebut adalah kebajikan yang membawa manfaat dan kebahagiaan.


Yang menentukan kualitas suatu kebajikan bukan semata-mata tindakan lahiriahnya, melainkan kualitas batin yang menyertainya. Seseorang yang berdana dengan hati penuh syukur, keyakinan, dan kebijaksanaan sedang menanam sebab yang lebih kuat dibandingkan kebajikan yang dilakukan dengan perhatian yang lemah atau tanpa perenungan yang memadai.


Dalam perspektif Abhidhamma, kebajikan yang tidak disertai kebijaksanaan (ñāṇa) termasuk kebajikan dua akar (dvihetuka), sedangkan kebajikan yang disertai kebijaksanaan disebut tiga akar (tihetuka). Oleh karena itu, Sang Buddha menganjurkan agar setiap kebajikan dilakukan dengan kesadaran yang jernih, memahami bahwa perbuatan tersebut adalah kusala kamma yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun makhluk lain.


Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya tindakan kebajikannya, melainkan juga kualitas batin sebelum, selama, dan sesudah kebajikan tersebut dilakukan. Semakin kuat keyakinan, pemahaman, kegembiraan, dan kebijaksanaan yang menyertainya, semakin kuat pula potensi kebajikan yang terakumulasi.


Kebahagiaan pun Tercurah Kepadanya

Setelah menjelaskan empat roda tersebut, Sang Buddha menunjukkan buah yang muncul ketika seseorang memilikinya. Kehidupan yang ditopang oleh lingkungan yang baik, pergaulan yang baik, pengarahan diri yang benar, dan akumulasi kebajikan akan bergerak menuju perkembangan yang semakin baik.


  • Bukan hanya kekayaan yang dapat muncul.
  • Bukan hanya nama baik yang dapat berkembang.
  • Bukan hanya keberhasilan yang dapat bertambah.
  • Tetapi juga kebahagiaan.


Kebahagiaan yang dimaksud bukan sekadar kesenangan sesaat. Kebahagiaan itu lahir dari hati yang selaras dengan Dhamma. Kebahagiaan yang muncul ketika seseorang mengetahui bahwa kehidupannya bergerak ke arah yang benar.


Dalam Aggappasāda Sutta (AN 4.34), Sang Buddha menyatakan:

Aggasmiṃ dānaṃ dadataṃ,
aggaṃ puññaṃ pavaḍḍhati;
aggaṃ āyu ca vaṇṇo ca,
yaso kitti sukhaṃ balaṃ.


"Bagi mereka yang memberikan kepada yang utama/mulia, 

kebajikan yang utama/mulia bertambah. 

Umur panjang, kecemerlangan, 

nama baik (reputasi), kebahagiaan, dan kekuatan pun berkembang."


Perlu dipahami bahwa keberhasilan duniawi bukanlah tujuan akhir Dhamma. Namun, ketika sebab-sebab yang baik dipenuhi, berbagai kondisi kehidupan yang baik juga dapat muncul sebagai buahnya.


Sebuah Perjalanan yang Perlu Dilanjutkan

Mungkin yang paling penting dari seluruh wejangan ini bukanlah memahami teori tentang empat roda, melainkan menjadikannya bahan refleksi pribadi.

  • Apakah saya telah tinggal di lingkungan yang mendukung perkembangan Dhamma?
  • Apakah saya sungguh bersandar kepada orang-orang yang berbudi luhur?
  • Apakah saya terus memperbaiki diri hari demi hari?
  • Apakah saya menanam kebajikan dengan kesadaran, keyakinan, dan kebijaksanaan?


Tidak seorang pun dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu untuk kita. Masing-masing harus melihat ke dalam batinnya sendiri. Karena pada akhirnya, kebahagiaan yang sejati bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain. Kebahagiaan bertumbuh dari sebab-sebab yang kita pelihara sendiri.


Ketika empat roda itu berputar dengan baik, kehidupan pun bergerak menuju arah yang lebih terang. Dan sebagaimana disampaikan oleh Sang Buddha, kepada orang yang demikian, keberhasilan dapat berkembang, kesejahteraan dapat bertambah, dan kebahagiaan pun tercurah kepadanya.


Sabbe sattā sukhitā hontu.
Semoga semua makhluk berbahagia.


Catatan:

Pada bagian pembahasan mengenai ñāṇasampayutta, dvihetuka, kualitas kebajikan, dan hubungan antara kebijaksanaan dengan kualitas kamma, artikel ini juga mempertimbangkan penjelasan Abhidhamma Theravāda sehingga beberapa istilah dijelaskan secara lebih hati-hati dan tidak selalu identik dengan bahasa lisan dalam ceramah.

Tuesday, May 26, 2026

Mahā Hatthipadopama Sutta

 8. Mahāhatthipadopamasuttaṃ

300. Evaṃ me sutaṃ – ekaṃ samayaṃ bhagavā sāvatthiyaṃ viharati jetavane anāthapiṇḍikassa ārāme. Tatra kho āyasmā sāriputto bhikkhū āmantesi – ‘‘āvuso bhikkhave’’ti. ‘‘Āvuso’’ti kho te bhikkhū āyasmato sāriputtassa paccassosuṃ. Āyasmā sāriputto etadavoca – ‘‘seyyathāpi, āvuso, yāni kānici jaṅgalānaṃ pāṇānaṃ padajātāni sabbāni tāni hatthipade samodhānaṃ gacchanti, hatthipadaṃ tesaṃ aggamakkhāyati yadidaṃ mahantattena; evameva kho, āvuso, ye keci kusalā dhammā sabbete catūsu ariyasaccesu saṅgahaṃ gacchanti. Katamesu catūsu? Dukkhe ariyasacce , dukkhasamudaye ariyasacce, dukkhanirodhe ariyasacce, dukkhanirodhagāminiyā paṭipadāya ariyasacce’’.

301. ‘‘Katamañcāvuso, dukkhaṃ ariyasaccaṃ? Jātipi dukkhā, jarāpi dukkhā, maraṇampi dukkhaṃ, sokaparidevadukkhadomanassupāyāsāpi dukkhā, yampicchaṃ na labhati tampi dukkhaṃ; saṃkhittena, pañcupādānakkhandhā dukkhā. Katame cāvuso, pañcupādānakkhandhā? Seyyathidaṃ – rūpupādānakkhandho, vedanupādānakkhandho, saññupādānakkhandho, saṅkhārupādānakkhandho, viññāṇupādānakkhandho.

‘‘Katamo cāvuso, rūpupādānakkhandho? Cattāri ca mahābhūtāni, catunnañca mahābhūtānaṃ upādāya rūpaṃ.

‘‘Katamā cāvuso, cattāro mahābhūtā? Pathavīdhātu, āpodhātu , tejodhātu, vāyodhātu.

302. ‘‘Katamā cāvuso, pathavīdhātu? Pathavīdhātu siyā ajjhattikā, siyā bāhirā. Katamā cāvuso, ajjhattikā pathavīdhātu? Yaṃ ajjhattaṃ paccattaṃ kakkhaḷaṃ kharigataṃ upādinnaṃ, seyyathidaṃ – kesā lomā nakhā dantā taco maṃsaṃ nhāru aṭṭhi aṭṭhimiñjaṃ vakkaṃ hadayaṃ yakanaṃ kilomakaṃ pihakaṃ papphāsaṃ antaṃ antaguṇaṃ udariyaṃ karīsaṃ, yaṃ vā panaññampi kiñci ajjhattaṃ paccattaṃ kakkhaḷaṃ kharigataṃ upādinnaṃ. Ayaṃ vuccatāvuso, ajjhattikā pathavīdhātu. Yā ceva kho pana ajjhattikā pathavīdhātu, yā ca bāhirā pathavīdhātu, pathavīdhāturevesā. ‘Taṃ netaṃ mama, nesohamasmi, na meso attā’ti – evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabbaṃ. Evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya disvā pathavīdhātuyā nibbindati, pathavīdhātuyā cittaṃ virājeti.

‘‘Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ bāhirā āpodhātu pakuppati pathavīdhātu pakuppati (ka.). Antarahitā tasmiṃ samaye bāhirā pathavīdhātu hoti. Tassā hi nāma, āvuso, bāhirāya pathavīdhātuyā tāva mahallikāya aniccatā paññāyissati, khayadhammatā paññāyissati, vayadhammatā paññāyissati, vipariṇāmadhammatā paññāyissati. Kiṃ panimassa mattaṭṭhakassa kāyassa taṇhupādinnassa ‘ahanti vā mamanti vā asmī’ti vā? Atha khvāssa notevettha hoti.

‘‘Tañce, āvuso, bhikkhuṃ pare akkosanti paribhāsanti rosenti vihesenti, so evaṃ pajānāti – ‘uppannā kho me ayaṃ sotasamphassajā dukkhavedanā . Sā ca kho paṭicca, no apaṭicca. Kiṃ paṭicca? Phassaṃ paṭicca’. So sopikho (syā.), sopi (ka.) phasso aniccoti passati, vedanā aniccāti passati, saññā aniccāti passati, saṅkhārā aniccāti passati, viññāṇaṃ aniccanti passati. Tassa dhātārammaṇameva cittaṃ pakkhandati pasīdati santiṭṭhati adhimuccati.

‘‘Tañce, āvuso, bhikkhuṃ pare aniṭṭhehi akantehi amanāpehi samudācaranti – pāṇisamphassenapi leḍḍusamphassenapi daṇḍasamphassenapi satthasamphassenapi. So evaṃ pajānāti – ‘tathābhūto kho ayaṃ kāyo yathābhūtasmiṃ kāye pāṇisamphassāpi kamanti, leḍḍusamphassāpi kamanti, daṇḍasamphassāpi kamanti, satthasamphassāpi kamanti. Vuttaṃ kho panetaṃ bhagavatā kakacūpamovāde – ‘‘ubhatodaṇḍakena cepi, bhikkhave, kakacena corā ocarakā aṅgamaṅgāni okanteyyuṃ, tatrāpi yo mano padūseyya na me so tena sāsanakaro’’ti. Āraddhaṃ kho pana me vīriyaṃ bhavissati asallīnaṃ, upaṭṭhitā sati asammuṭṭhā, passaddho kāyo asāraddho, samāhitaṃ cittaṃ ekaggaṃ. Kāmaṃ dāni imasmiṃ kāye pāṇisamphassāpi kamantu, leḍḍusamphassāpi kamantu, daṇḍasamphassāpi kamantu, satthasamphassāpi kamantu, karīyati hidaṃ buddhānaṃ sāsana’nti.

‘‘Tassa ce, āvuso, bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato evaṃ dhammaṃ anussarato evaṃ saṅghaṃ anussarato upekkhā kusalanissitā na saṇṭhāti. So tena saṃvijjati saṃvegaṃ āpajjati – ‘alābhā vata me, na vata me lābhā, dulladdhaṃ vata me, na vata me suladdhaṃ, yassa me evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato, upekkhā kusalanissitā na saṇṭhātī’ti. Seyyathāpi, āvuso, suṇisā sasuraṃ disvā saṃvijjati saṃvegaṃ āpajjati; evameva kho, āvuso, tassa ce bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato, upekkhā kusalanissitā na saṇṭhāti, so tena saṃvijjati saṃvegaṃ āpajjati – ‘alābhā vata me na vata me lābhā, dulladdhaṃ vata me, na vata me suladdhaṃ, yassa me evaṃ buddhaṃ anussarato evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato, upekkhā kusalanissitā na saṇṭhātī’ti. Tassa ce, āvuso, bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato upekkhā kusalanissitā saṇṭhāti, so tena attamano hoti. Ettāvatāpi kho, āvuso, bhikkhuno bahukataṃ hoti.

303. ‘‘Katamā cāvuso, āpodhātu? Āpodhātu siyā ajjhattikā, siyā bāhirā. Katamā cāvuso ajjhattikā āpodhātu? Yaṃ ajjhattaṃ paccattaṃ āpo āpogataṃ upādinnaṃ, seyyathidaṃ – pittaṃ semhaṃ pubbo lohitaṃ sedo medo assu vasā kheḷo siṅghāṇikā lasikā muttaṃ, yaṃ vā panaññampi kiñci ajjhattaṃ paccattaṃ āpo āpogataṃ upādinnaṃ – ayaṃ vuccatāvuso, ajjhattikā āpodhātu. Yā ceva kho pana ajjhattikā āpodhātu yā ca bāhirā āpodhātu, āpodhāturevesā. ‘Taṃ netaṃ mama, nesohamasmi, na meso attā’ti evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabbaṃ. Evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya disvā āpodhātuyā nibbindati, āpodhātuyā cittaṃ virājeti.

‘‘Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ bāhirā āpodhātu pakuppati. Sā gāmampi vahati, nigamampi vahati, nagarampi vahati, janapadampi vahati, janapadapadesampi vahati. Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ mahāsamudde yojanasatikānipi udakāni ogacchanti, dviyojanasatikānipi udakāni ogacchanti, tiyojanasatikānipi udakāni ogacchanti, catuyojanasatikānipi udakāni ogacchanti, pañcayojanasatikānipi udakāni ogacchanti, chayojanasatikānipi udakāni ogacchanti, sattayojanasatikānipi udakāni ogacchanti. Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ mahāsamudde sattatālampi udakaṃ saṇṭhāti, chattālampi udakaṃ saṇṭhāti, pañcatālampi udakaṃ saṇṭhāti, catuttālampi udakaṃ saṇṭhāti, titālampi udakaṃ saṇṭhāti, dvitālampi udakaṃ saṇṭhāti, tālamattampi tālaṃpi (sī.) udakaṃ saṇṭhāti. Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ mahāsamudde sattaporisampi udakaṃ saṇṭhāti, chapporisampi udakaṃ saṇṭhāti, pañcaporisampi udakaṃ saṇṭhāti, catupporisampi udakaṃ saṇṭhāti, tiporisampi udakaṃ saṇṭhāti, dviporisampi udakaṃ saṇṭhāti, porisamattampi porisaṃpi (sī.) udakaṃ saṇṭhāti. Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ mahāsamudde aḍḍhaporisampi udakaṃ saṇṭhāti, kaṭimattampi udakaṃ saṇṭhāti, jāṇukamattampi udakaṃ saṇṭhāti, gopphakamattampi udakaṃ saṇṭhāti. Hoti kho so, āvuso, samayo, yaṃ mahāsamudde aṅgulipabbatemanamattampi udakaṃ na hoti. Tassā hi nāma, āvuso, bāhirāya āpodhātuyā tāva mahallikāya aniccatā paññāyissati, khayadhammatā paññāyissati, vayadhammatā paññāyissati, vipariṇāmadhammatā paññāyissati. Kiṃ panimassa mattaṭṭhakassa kāyassa taṇhupādinnassa ‘ahanti vā mamanti vā asmīti’ vā? Atha khvāssa notevettha hoti…pe… tassa ce, āvuso, bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato upekkhā kusalanissitā saṇṭhāti. So tena attamano hoti. Ettāvatāpi kho, āvuso, bhikkhuno bahukataṃ hoti.

304. ‘‘Katamā cāvuso, tejodhātu? Tejodhātu siyā ajjhattikā, siyā bāhirā. Katamā cāvuso, ajjhattikā tejodhātu? Yaṃ ajjhattaṃ paccattaṃ tejo tejogataṃ upādinnaṃ, seyyathidaṃ – yena ca santappati, yena ca jīrīyati, yena ca pariḍayhati, yena ca asitapītakhāyitasāyitaṃ sammā pariṇāmaṃ gacchati, yaṃ vā panaññampi kiñci ajjhattaṃ paccattaṃ tejo tejogataṃ upādinnaṃ – ayaṃ vuccatāvuso, ajjhattikā tejodhātu. Yā ceva kho pana ajjhattikā tejodhātu yā ca bāhirā tejodhātu, tejodhāturevesā. ‘Taṃ netaṃ mama , nesohamasmi, na meso attā’ti evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabbaṃ. Evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya disvā tejodhātuyā nibbindati, tejodhātuyā cittaṃ virājeti.

‘‘Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ bāhirā tejodhātu pakuppati. Sā gāmampi dahati, nigamampi dahati, nagarampi dahati, janapadampi dahati, janapadapadesampi dahati. Sā haritantaṃ vā panthantaṃ vā selantaṃ vā udakantaṃ vā ramaṇīyaṃ vā bhūmibhāgaṃ āgamma anāhārā nibbāyati. Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ kukkuṭapattenapi nhārudaddulenapi aggiṃ gavesanti . Tassā hi nāma, āvuso, bāhirāya tejodhātuyā tāva mahallikāya aniccatā paññāyissati, khayadhammatā paññāyissati, vayadhammatā paññāyissati, vipariṇāmadhammatā paññāyissati. Kiṃ panimassa mattaṭṭhakassa kāyassa taṇhupādinnassa ‘ahanti vā mamanti vā asmī’ti vā? Atha khvāssa notevettha hoti…pe… tassa ce, āvuso, bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato evaṃ dhammaṃ anussarato evaṃ saṅghaṃ anussarato upekkhā kusalanissitā saṇṭhāti, so tena attamano hoti. Ettāvatāpi kho, āvuso, bhikkhuno bahukataṃ hoti.

305. ‘‘Katamā cāvuso, vāyodhātu? Vāyodhātu siyā ajjhattikā, siyā bāhirā. Katamā cāvuso, ajjhattikā vāyodhātu? Yaṃ ajjhattaṃ paccattaṃ vāyo vāyogataṃ upādinnaṃ, seyyathidaṃ – uddhaṅgamā vātā, adhogamā vātā, kucchisayā vātā, koṭṭhāsayā koṭṭhasayā (sī. pī.) vātā, aṅgamaṅgānusārino vātā, assāso passāso iti, yaṃ vā panaññampi kiñci ajjhattaṃ paccattaṃ vāyo vāyogataṃ upādinnaṃ – ayaṃ vuccatāvuso, ajjhattikā vāyodhātu. Yā ceva kho pana ajjhattikā vāyodhātu, yā ca bāhirā vāyodhātu, vāyodhāturevesā. ‘Taṃ netaṃ mama nesohamasmi na meso attā’ti evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabbaṃ. Evametaṃ yathābhūtaṃ sammappaññāya disvā vāyodhātuyā nibbindati vāyodhātuyā cittaṃ virājeti.

‘‘Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ bāhirā vāyodhātu pakuppati. Sā gāmampi vahati, nigamampi vahati, nagarampi vahati, janapadampi vahati, janapadapadesampi vahati. Hoti kho so, āvuso, samayo yaṃ gimhānaṃ pacchime māse tālavaṇṭenapi vidhūpanenapi vātaṃ pariyesanti, ossavanepi tiṇāni na icchanti. Tassā hi nāma, āvuso, bāhirāya vāyodhātuyā tāva mahallikāya aniccatā paññāyissati, khayadhammatā paññāyissati, vayadhammatā paññāyissati, vipariṇāmadhammatā paññāyissati. Kiṃ panimassa mattaṭṭhakassa kāyassa taṇhupādinnassa ‘ahanti vā mamanti vā asmī’ti vā? Atha khvāssa notevettha hoti.

‘‘Tañce, āvuso, bhikkhuṃ pare akkosanti paribhāsanti rosenti vihesenti. So evaṃ pajānāti, uppannā kho me ayaṃ sotasamphassajā dukkhā vedanā. Sā ca kho paṭicca, no apaṭicca. Kiṃ paṭicca? Phassaṃ paṭicca. Sopi phasso aniccoti passati, vedanā aniccāti passati , saññā aniccāti passati, saṅkhārā aniccāti passati, viññāṇaṃ aniccanti passati. Tassa dhātārammaṇameva cittaṃ pakkhandati pasīdati santiṭṭhati adhimuccati.

‘‘Tañce, āvuso, bhikkhuṃ pare aniṭṭhehi akantehi amanāpehi samudācaranti, pāṇisamphassenapi leḍḍusamphassenapi daṇḍasamphassenapi satthasamphassenapi. So evaṃ pajānāti ‘tathābhūto kho ayaṃ kāyo yathābhūtasmiṃ kāye pāṇisamphassāpi kamanti, leḍḍusamphassāpi kamanti, daṇḍasamphassāpi kamanti, satthasamphassāpi kamanti. Vuttaṃ kho panetaṃ bhagavatā kakacūpamovāde ‘‘ubhatodaṇḍakena cepi, bhikkhave, kakacena corā ocarakā aṅgamaṅgāni okanteyyuṃ. Tatrāpi yo mano padūseyya, na me so tena sāsanakaro’’ti. Āraddhaṃ kho pana me vīriyaṃ bhavissati asallīnaṃ, upaṭṭhitā sati asammuṭṭhā, passaddho kāyo asāraddho, samāhitaṃ cittaṃ ekaggaṃ. Kāmaṃ dāni imasmiṃ kāye pāṇisamphassāpi kamantu, leḍḍusamphassāpi kamantu, daṇḍasamphassāpi kamantu, satthasamphassāpi kamantu. Karīyati hidaṃ buddhānaṃ sāsana’nti.

‘‘Tassa ce, āvuso, bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato upekkhā kusalanissitā na saṇṭhāti. So tena saṃvijjati saṃvegaṃ āpajjati – ‘alābhā vata me, na vata me lābhā, dulladdhaṃ vata me, na vata me suladdhaṃ. Yassa me evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato upekkhā kusalanissitā na saṇṭhātī’ti. Seyyathāpi, āvuso, suṇisā sasuraṃ disvā saṃvijjati saṃvegaṃ āpajjati; evameva kho, āvuso, tassa ce bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato, upekkhā kusalanissitā na saṇṭhāti. So tena saṃvijjati saṃvegaṃ āpajjati – ‘alābhā vata me, na vata me lābhā, dulladdhaṃ vata me, na vata me suladdhaṃ. Yassa me evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato, upekkhā kusalanissitā na saṇṭhātī’ti. Tassa ce, āvuso, bhikkhuno evaṃ buddhaṃ anussarato, evaṃ dhammaṃ anussarato, evaṃ saṅghaṃ anussarato, upekkhā kusalanissitā saṇṭhāti, so tena attamano hoti. Ettāvatāpi kho, āvuso, bhikkhuno bahukataṃ hoti.

306. ‘‘Seyyathāpi, āvuso, kaṭṭhañca paṭicca valliñca paṭicca tiṇañca paṭicca mattikañca paṭicca ākāso parivārito agāraṃ tveva saṅkhaṃ gacchati; evameva kho, āvuso, aṭṭhiñca paṭicca nhāruñca paṭicca maṃsañca paṭicca cammañca paṭicca ākāso parivārito rūpaṃ tveva saṅkhaṃ gacchati. Ajjhattikañceva, āvuso, cakkhuṃ aparibhinnaṃ hoti, bāhirā ca rūpā na āpāthaṃ āgacchanti, no ca tajjo samannāhāro hoti, neva tāva tajjassa viññāṇabhāgassa pātubhāvo hoti. Ajjhattikañceva ajjhattikañce (sī. syā. pī.), ajjhattikañcepi (?), āvuso, cakkhuṃ aparibhinnaṃ hoti bāhirā ca rūpā āpāthaṃ āgacchanti, no ca tajjo samannāhāro hoti, neva tāva tajjassa viññāṇabhāgassa pātubhāvo hoti. Yato ca kho, āvuso, ajjhattikañceva cakkhuṃ aparibhinnaṃ hoti, bāhirā ca rūpā āpāthaṃ āgacchanti, tajjo ca samannāhāro hoti. Evaṃ tajjassa viññāṇabhāgassa pātubhāvo hoti. Yaṃ tathābhūtassa rūpaṃ taṃ rūpupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati, yā tathābhūtassa vedanā sā vedanupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati, yā tathābhūtassa saññā sā saññupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati, ye tathābhūtassa saṅkhārā te saṅkhārupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchanti, yaṃ tathābhūtassa viññāṇaṃ taṃ viññāṇupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati.

‘‘So evaṃ pajānāti – ‘evañhi kira imesaṃ pañcannaṃ upādānakkhandhānaṃ saṅgaho sannipāto samavāyo hoti. Vuttaṃ kho panetaṃ bhagavatā – ‘yo paṭiccasamuppādaṃ passati so dhammaṃ passati; yo dhammaṃ passati so paṭiccasamuppādaṃ passatīti. Paṭiccasamuppannā kho panime yadidaṃ pañcupādānakkhandhā. Yo imesu pañcasu upādānakkhandhesu chando ālayo anunayo ajjhosānaṃ so dukkhasamudayo. Yo imesu pañcasu upādānakkhandhesu chandarāgavinayo chandarāgappahānaṃ, so dukkhanirodho’ti. Ettāvatāpi kho, āvuso, bhikkhuno bahukataṃ hoti.

‘‘Ajjhattikañceva, āvuso, sotaṃ aparibhinnaṃ hoti…pe… ghānaṃ aparibhinnaṃ hoti… jivhā aparibhinnā hoti… kāyo aparibhinno hoti… mano aparibhinno hoti, bāhirā ca dhammā na āpāthaṃ āgacchanti no ca tajjo samannāhāro hoti, neva tāva tajjassa viññāṇabhāgassa pātubhāvo hoti. Ajjhattiko ceva, āvuso, mano aparibhinno hoti, bāhirā ca dhammā āpāthaṃ āgacchanti, no ca tajjo samannāhāro hoti, neva tāva tajjassa viññāṇabhāgassa pātubhāvo hoti. Yato ca kho, āvuso, ajjhattiko ceva mano aparibhinno hoti, bāhirā ca dhammā āpāthaṃ āgacchanti, tajjo ca samannāhāro hoti, evaṃ tajjassa viññāṇabhāgassa pātubhāvo hoti. Yaṃ tathābhūtassa rūpaṃ taṃ rūpupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati, yā tathābhūtassa vedanā sā vedanupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati, yā tathābhūtassa saññā sā saññupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati, ye tathābhūtassa saṅkhārā te saṅkhārupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchanti, yaṃ tathābhūtassa viññāṇaṃ taṃ viññāṇupādānakkhandhe saṅgahaṃ gacchati. So evaṃ pajānāti – ‘evañhi kira imesaṃ pañcannaṃ upādānakkhandhānaṃ saṅgaho sannipāto samavāyo hoti. Vuttaṃ kho panetaṃ bhagavatā – ‘‘yo paṭiccasamuppādaṃ passati so dhammaṃ passati; yo dhammaṃ passati so paṭiccasamuppādaṃ passatī’’ti. Paṭiccasamuppannā kho panime yadidaṃ pañcupādānakkhandhā. Yo imesu pañcasu upādānakkhandhesu chando ālayo anunayo ajjhosānaṃ so dukkhasamudayo. Yo imesu pañcasu upādānakkhandhesu chandarāgavinayo chandarāgappahānaṃ so dukkhanirodho’ti. Ettāvatāpi kho, āvuso, bhikkhuno bahukataṃ hotī’’ti.

Idamavoca āyasmā sāriputto. Attamanā te bhikkhū āyasmato sāriputtassa bhāsitaṃ abhinandunti.

Mahāhatthipadopamasuttaṃ niṭṭhitaṃ aṭṭhamaṃ.




Source 「经源」

Tipiṭaka (Mūla): Suttapiṭaka: Majjhimanikāya: Mūlapaṇṇāsa: 3. Opammavaggo:  8. Mahāhatthipadopamasuttaṃ

经藏《根本经典》 → 中部 → 根本五十经篇 → 第三品《譬喻品》 → 第八经《大象迹喻经》

Pesan orang tua

Ayo ngelakoni apik, sing seneng weweh, (pokok'e nek kasih sesuatu aja diitung) aja nglarani atine uwong.
Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa.
"Sabar iku lire momot kuat nandhang sakening coba lan pandhadharaning urip. Sabar iku ingaran mustikaning laku." -
Ms. Shinta & Paribasan Jowo

Terjemahan

Mari melakukan kebaikan dan senang berdarma-bakti, jangan pernah dihitung-hitung kalau sudah berbuat baik.
Janganlah menyakiti hati orang lain.
Jadi orang jangan cuma merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.
"Sabar itu merupakan sebuah kemampuan untuk menahan segala macam godaan dalam hidup.
Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratnya bagaikan sebuah mustika
(sebuah hal yang sangat indah) dalam praktek kehidupan"
- Bu Shinta & Pepatah Jawa