Showing posts with label Aspirasi Dhamma. Show all posts
Showing posts with label Aspirasi Dhamma. Show all posts

Monday, May 27, 2024

Dhammanusati

 स्वाक्खातो भगवता धम्मो,

सन्दिट्ठिको अकालिको एहिपस्सिको,

ओपनयिको पच्चत्तं वेदितब्बो विञ्ञूहीति।

Svākkhāto bhagavatā dhammo,

Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko,

Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti.


1. Svākkhāto bhagavatā dhammo

Svākkhāto:

Arti: "Dijelaskan dengan baik" atau "dijabarkan dengan baik".

Penjelasan: Kata ini menekankan bahwa ajaran Buddha disampaikan dengan sangat jelas, tepat, dan mendetail. Buddha sebagai seorang guru memiliki kemampuan luar biasa untuk menjelaskan Dharma (ajaran) dengan cara yang mudah dipahami dan diikuti oleh para pengikutnya.


Bhagavatā:

Arti: "Oleh Yang Mulia (Bhagava)".

Penjelasan: Kata ini merujuk kepada Buddha, yang sering disebut sebagai "Yang Mulia (Bhagava)" atau "Yang Tercerahkan". Ini menekankan otoritas dan kebijaksanaan dari Buddha sebagai sumber ajaran yang terpercaya.


Dhammo:

Arti: "Dharma" atau "Ajaran".

Penjelasan: Dharma merujuk kepada ajaran atau doktrin yang diajarkan oleh Buddha. Ini mencakup semua prinsip etika, meditasi, dan kebijaksanaan yang diajarkan untuk mencapai pencerahan.


Keseluruhan Frasa:

Arti: "Dharma dijelaskan dengan baik oleh Yang Mulia (Bhagava)."

Penjelasan: Frasa ini menekankan bahwa ajaran Buddha adalah komprehensif dan dapat dipercaya, disampaikan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami oleh semua orang.


2. Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko

Sandiṭṭhiko:

Arti: "Terlihat di sini dan sekarang" atau "dapat dilihat di sini dan sekarang".

Penjelasan: Ajaran Buddha tidak hanya relevan di masa lalu atau masa depan, tetapi dapat dialami langsung pada saat ini. Praktisi dapat melihat hasil dari praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari.


Akāliko:

Arti: "Tidak terikat oleh waktu" atau "abadi".

Penjelasan: Ajaran Buddha tidak terbatas oleh waktu. Prinsip-prinsip yang diajarkan adalah universal dan berlaku sepanjang masa, tidak hanya relevan pada zaman Buddha tetapi juga pada masa kini dan masa depan.


Ehipassiko:

Arti: "Mengundang untuk datang dan melihat".

Penjelasan: Buddha mengajak semua orang untuk memeriksa ajarannya sendiri, bukan hanya menerima berdasarkan kepercayaan buta. Ini adalah ajakan untuk mengalami dan menguji kebenaran ajaran secara langsung.


Keseluruhan Frasa:

Arti: "Terlihat di sini dan sekarang, tidak terikat oleh waktu, mengundang untuk datang dan melihat."

Penjelasan: Frasa ini menekankan tiga kualitas utama dari Dharma:

Relevansi langsung: Ajaran dapat dilihat dan dialami pada saat ini.

Abadi: Ajaran tersebut tidak terbatas oleh waktu dan selalu relevan.

Diundang untuk mengalami: Setiap orang diajak untuk memeriksa dan mengalami kebenaran ajaran Buddha secara langsung.


Kombinasi Penjelasan dalam Bahasa Indonesia

Svākkhāto bhagavatā dhammo,

"Dharma dijelaskan dengan baik oleh Yang Mulia (Bhagava),"

Penjelasan: Ajaran Buddha dijabarkan dengan cara yang sangat jelas dan dapat dipercaya, memungkinkan para pengikutnya untuk memahami dan mengikuti ajaran tersebut dengan mudah.

Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko,

"Terlihat di sini dan sekarang, tidak terikat oleh waktu, mengundang untuk datang dan melihat."

Penjelasan: Ajaran Buddha dapat dialami langsung pada saat ini, selalu relevan tanpa terbatas oleh waktu, dan setiap orang diundang untuk memeriksa dan menguji kebenaran ajaran tersebut sendiri.


Kesimpulan

Frasa "Svākkhāto bhagavatā dhammo, Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko" menggambarkan kualitas-kualitas utama dari ajaran Buddha. Ajaran tersebut dijelaskan dengan baik oleh Buddha, dapat dialami langsung pada saat ini, bersifat abadi, dan mengundang setiap orang untuk datang dan melihat kebenarannya. Ini menekankan pentingnya pengalaman langsung dan pemahaman pribadi dalam praktik Buddhisme, serta relevansi ajaran yang abadi sepanjang waktu.


'Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti' ke dalam Bahasa Indonesia:


Terjemahan

"Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti" dapat diterjemahkan sebagai:

"Untuk dibawa ke dalam dan direalisasikan secara pribadi oleh orang yang bijaksana."

Atau lebih rinci:

"Ajaran ini harus dibawa ke dalam diri dan diketahui secara pribadi oleh orang bijak."


Penjelasan dalam Bahasa Indonesia

Frasa ini sering digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat dari Dharma, atau ajaran Buddha, yang menekankan pentingnya pengalaman pribadi dan pemahaman individu dalam praktik Buddhisme.


Komponen dan Artinya:

1) Opanayiko:

Diterjemahkan sebagai "mengarah ke dalam" atau "untuk dibawa ke dalam."

Ini menunjukkan bahwa ajaran tersebut membimbing praktisi menuju pemahaman dan realisasi yang lebih dalam.


2) Paccattaṃ:

Diterjemahkan sebagai "secara pribadi" atau "individual."

Ini menekankan aspek pribadi dari pengalaman tersebut, menunjukkan bahwa ajaran tersebut harus dipahami dan direalisasikan secara individu.


3) Veditabbo:

Diterjemahkan sebagai "untuk diketahui" atau "untuk direalisasikan."

Ini menunjukkan bahwa ajaran tersebut harus diketahui atau dialami secara langsung.


4) Viññūhī:

Diterjemahkan sebagai "oleh orang bijaksana" atau "oleh mereka yang memiliki wawasan."

Ini menunjukkan bahwa pengetahuan atau realisasi ini dapat diakses oleh mereka yang bijaksana atau memiliki kemampuan untuk memahami.


5) ‘ti:

Partikel yang sering digunakan untuk menandai akhir dari suatu kutipan atau untuk menunjukkan bahwa frasa sebelumnya adalah sebuah kutipan.


Konteks dalam Buddhisme

Frasa ini sering digunakan untuk menggambarkan kualitas Dharma, menekankan bahwa ajaran ini dimaksudkan untuk membawa praktisi menuju wawasan dan realisasi pribadi. Ini menekankan pentingnya:


1) Internalisasi: 

Ajaran ini bukan hanya teori atau eksternal; mereka harus diinternalisasi dan dialami dalam diri seseorang.

2) Pengalaman Pribadi: Setiap praktisi harus mencapai pemahaman mereka sendiri melalui pengalaman langsung.

3) Kebijaksanaan dan Wawasan: Mereka yang memiliki kebijaksanaan atau kemampuan untuk membedakan didorong untuk terlibat secara mendalam dengan ajaran untuk merealisasikan kebenarannya.

Penerapan dalam Praktik

4) Meditasi dan Kesadaran Penuh (Mindfulness): Praktisi didorong untuk menerapkan ajaran dalam kehidupan mereka melalui praktik seperti meditasi dan kesadaran penuh untuk mendapatkan wawasan pribadi.

5) Perilaku Etis: Hidup sesuai dengan ajaran etis Buddhisme membantu memfasilitasi pemahaman dan realisasi pribadi.

5) Studi dan Refleksi: Terlibat dengan ajaran melalui studi dan refleksi memungkinkan individu untuk menginternalisasi dan merealisasikan maknanya dengan lebih mendalam.


Relevansi Dalam Kehidupan

Dalam praktik kontemporer, frasa ini memperkuat pentingnya keterlibatan pribadi dan pengalaman langsung dalam memahami kebenaran spiritual. Ini sejalan dengan penekanan pada penyelidikan empiris dan pertumbuhan pribadi, yang dihargai dalam konteks spiritual dan sekuler modern.


Secara keseluruhan, "Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhī ‘ti" menekankan kebutuhan akan realisasi pribadi dan internalisasi ajaran melalui pengalaman langsung dan kebijaksanaan. Ini menyoroti sifat dinamis dan individual dari jalan menuju pencerahan dalam Buddhisme.

Tuesday, December 12, 2023

Aspirasi Dhamma 2


इदं मे पुञ्ञं आसवक्खयावहं होतु

Idaṁ me puññaṁ āsavakkhayāvahaṁ hotu.

With these goodnesses, let those defilements vanished

Dengan kebaikan-kebaikan ini, biarlah kekotoran batin lenyap


इदं मे पुञ्ञं मग्ग-फल-ञाणस्स पच्चयो होतु

Idaṁ me puññaṁ magga-phala-ñāṇassa paccayo hotu

Let this goodness be the basic foundation for me to walk in the Path, attain the holy fruition and gain the the highest insight.

Biarkan kebaikan ini menjadi landasan dasar bagi saya untuk (dengan kokoh) sejalan dalam Dhamma, mencapai buah suci dan memperoleh wawasan tertinggi.


इदं मे पुञ्ञं निब्बानस्स पच्चयो होतु.

Idaṁ me puññaṁ Nibbānassa paccayo hotu.

Let this goodness become the basic foundation for me to reach nibbana.

Biarkan kebaikan ini menjadi landasan dasar bagi saya untuk mencapai nibbana.


Word Bank

Idaṁ: this

me: mine/my

puññaṁ: merits, goodness, kindness

āsavakkhayāvahaṁ:

1. āsavakkhaya: Extinction or cessation of human passion or defilements. (āsava: taints, corruption's, intoxicant biases: noda, jahat/licik, delusi)

2. āvaha [adj.] (in cpds.) : bringing, bearing, conducive, lead to ... .

paccayo (paccaya): strong motive; ground faith, base reason.

hotu (bhavatu/hoti): to be; to become (exist); to take place; to befall.

magga: the path (Dhamma)
phala: Attain holy path; As 'path-result', or 'fruition', it donotes those moments of supermundane consciousness which flash forth immediately after the moment of path-consciousness (s.ariya-puggala) and which,till the attainment of the next higher path,may during the practice of insight (vipassanā,q.v.) still recur innumerable times.If thus repeated,they are called the 'attainment of fruition (phalasamāpatti),which is explained in detail in Vis.M.XXIII.

ñāṇassa (ñāṇa): knowledge, insight, comprehension. 


Click here to see what is Pattidana praying 

Thursday, May 25, 2023

Asibandhakaputta Sutta

 

6. Asibandhakaputta Sutta

358.

Pada suatu ketika Bhagavā sedang berdiam di Nāḷandā, di Hutan Mangga milik Pāvārika.

Kemudian Asibandhakaputta Gāmaṇi mendatangi Bhagavā. Setelah mendatangi Beliau, ia memberi hormat kepada Bhagavā lalu duduk di satu sisi.

Setelah duduk di satu sisi, Asibandhakaputta Gāmaṇi berkata kepada Bhagavā:

"Bhante, para brahmana dari negeri-negeri barat, yang membawa kendi air, mengenakan rangkaian lumut air, turun ke air, dan melayani api, mengatakan bahwa mereka dapat mengangkat orang yang telah meninggal, dapat membimbingnya, dan dapat memasukkannya ke surga.

Tetapi apakah Bhagavā, Yang Suci, Yang Tercerahkan Sempurna, mampu melakukan sedemikian rupa sehingga seluruh dunia, setelah hancurnya tubuh dan setelah kematian, terlahir di alam bahagia, di alam surga?"

Bhagavā menjawab:

"Kalau begitu, Gāmaṇi, Aku akan bertanya kepadamu mengenai hal ini. Jawablah sesuai dengan yang engkau anggap benar."


"Bagaimana menurutmu, Gāmaṇi?

Misalkan ada seseorang yang membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, berdusta, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, mengucapkan kata-kata kasar, berbicara sia-sia, serakah, memiliki niat jahat, dan berpandangan salah.

Kemudian sejumlah besar orang berkumpul bersama, memohon, memuji, dan mengikutinya dengan tangan terkatup sambil berkata:

'Semoga orang ini, setelah hancurnya tubuh dan setelah kematian, terlahir di alam bahagia, di alam surga.'

Bagaimana menurutmu, Gāmaṇi? Apakah karena permohonan orang banyak itu, karena pujian mereka, atau karena penghormatan mereka dengan tangan terkatup, orang itu setelah kematian akan terlahir di alam bahagia, di alam surga?"

Gāmaṇi menjawab:

"Tidak, Bhante."


Bhagavā melanjutkan:

"Misalkan, Gāmaṇi, seseorang melemparkan sebuah batu besar ke dalam danau yang dalam.

Kemudian sejumlah besar orang berkumpul bersama, memohon, memuji, dan mengikutinya dengan tangan terkatup sambil berkata:

'Muncullah, wahai batu besar!

Mengapunglah, wahai batu besar!

Naiklah ke daratan, wahai batu besar!'

Bagaimana menurutmu, Gāmaṇi? Apakah batu besar itu akan muncul ke permukaan, mengapung, atau naik ke daratan karena permohonan, pujian, dan penghormatan orang banyak itu?"

Gāmaṇi menjawab:

"Tidak, Bhante."

Bhagavā berkata:

"Demikian pula, Gāmaṇi, seseorang yang membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, berdusta, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, mengucapkan kata-kata kasar, berbicara sia-sia, serakah, memiliki niat jahat, dan berpandangan salah—

meskipun sejumlah besar orang berkumpul bersama, memohon, memuji, dan menghormatinya dengan tangan terkatup sambil berkata:

'Semoga orang ini, setelah hancurnya tubuh dan setelah kematian, terlahir di alam bahagia, di alam surga,'

namun orang itu, setelah hancurnya tubuh dan setelah kematian, akan terlahir di alam sengsara, tujuan buruk, alam celaka, di neraka."


Kemudian Bhagavā bertanya lagi:

"Bagaimana menurutmu, Gāmaṇi?

Misalkan ada seseorang yang menahan diri dari pembunuhan makhluk hidup, menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, menahan diri dari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menahan diri dari ucapan dusta, menahan diri dari ucapan memecah-belah, menahan diri dari ucapan kasar, menahan diri dari omong kosong yang tidak berguna, tidak serakah, tidak berniat jahat, dan memiliki pandangan benar.

Kemudian sejumlah besar orang berkumpul bersama, memohon, memuji, dan menghormatinya dengan tangan terkatup sambil berkata:

'Semoga orang ini, setelah hancurnya tubuh dan setelah kematian, terlahir di alam sengsara, tujuan buruk, alam celaka, di neraka.'

Bagaimana menurutmu, Gāmaṇi? Apakah karena permohonan, pujian, dan penghormatan orang banyak itu, orang tersebut setelah kematian akan terlahir di alam sengsara, tujuan buruk, alam celaka, di neraka?"

Gāmaṇi menjawab:

"Tidak, Bhante."


Bhagavā berkata:

"Misalkan, Gāmaṇi, seseorang menenggelamkan sebuah kendi berisi minyak samin atau minyak ke dalam danau yang dalam, lalu memecahkannya.

Kerikil atau pecahan tanah liat yang ada di dalamnya akan tenggelam ke bawah.

Tetapi minyak samin atau minyak yang ada di dalamnya akan naik ke atas.

Kemudian sejumlah besar orang berkumpul bersama, memohon, memuji, dan menghormatinya dengan tangan terkatup sambil berkata:

'Tenggelamlah, wahai minyak samin dan minyak!

Turunlah ke dasar!

Pergilah ke bawah!'

Bagaimana menurutmu, Gāmaṇi? Apakah minyak samin dan minyak itu akan tenggelam, turun ke dasar, atau bergerak ke bawah karena permohonan, pujian, dan penghormatan orang banyak itu?"

Gāmaṇi menjawab:

"Tidak, Bhante."


Bhagavā berkata:

"Demikian pula, Gāmaṇi, seseorang yang menahan diri dari pembunuhan makhluk hidup, menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, menahan diri dari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menahan diri dari ucapan dusta, menahan diri dari ucapan memecah-belah, menahan diri dari ucapan kasar, menahan diri dari omong kosong yang tidak berguna, tidak serakah, tidak berniat jahat, dan memiliki pandangan benar—

meskipun sejumlah besar orang berkumpul bersama, memohon, memuji, dan menghormatinya dengan tangan terkatup sambil berkata:

'Semoga orang ini, setelah hancurnya tubuh dan setelah kematian, terlahir di alam sengsara, tujuan buruk, alam celaka, di neraka,'

namun orang itu, setelah hancurnya tubuh dan setelah kematian, akan terlahir di alam bahagia, di alam surga."


Setelah hal itu dikatakan, Asibandhakaputta Gāmaṇi berkata kepada Bhagavā:

"Luar biasa, Bhante! Luar biasa, Bhante!

Bagaikan seseorang menegakkan kembali apa yang telah terbalik, menyingkap apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau membawa pelita ke dalam kegelapan agar mereka yang memiliki mata dapat melihat bentuk-bentuk.

Demikian pula Bhagavā telah menjelaskan Dhamma dengan berbagai cara.

Saya berlindung kepada Bhagavā, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu.

Semoga Bhagavā mengingat saya sebagai seorang upāsaka yang telah berlindung sejak hari ini hingga akhir hayat."

Selesai Sutta Keenam.


Inti ajaran sutta

Sutta ini mengajarkan bahwa nasib seseorang setelah kematian ditentukan oleh kamma (karma) dan kualitas batinnya sendiri, bukan oleh doa, ritual, pujian, atau permohonan orang lain.

Perumpamaan yang digunakan Buddha sangat jelas:

  • Batu besar tetap tenggelam walaupun banyak orang berdoa agar mengapung.

  • Minyak tetap naik ke permukaan walaupun banyak orang berdoa agar tenggelam.

Demikian pula:

  • Orang yang banyak melakukan kejahatan tidak menjadi terlahir di surga hanya karena didoakan.

  • Orang yang hidup bermoral dan berpandangan benar tidak menjadi terlahir di neraka hanya karena dikutuk atau didoakan demikian oleh orang banyak.

Inilah salah satu penjelasan paling tegas dalam Nikāya tentang prinsip bahwa makhluk mewarisi hasil kamma mereka sendiri.





Source「经源」:

Tipiṭaka (Mūla): Suttapiṭaka: Saṃyuttanikāya:  Saḷāyatanavagga: 8. Gāmaṇisaṃyuttaṃ:  6. Asibandhakaputtasuttaṃ

《巴利三藏》:经藏:《相应部》:第三十五〈六处篇〉:第八〈村长相应〉:第六经〈阿私槃陀迦子经〉(Asibandhakaputtasutta)。

Pesan orang tua

Ayo ngelakoni apik, sing seneng weweh, (pokok'e nek kasih sesuatu aja diitung) aja nglarani atine uwong.
Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa.
"Sabar iku lire momot kuat nandhang sakening coba lan pandhadharaning urip. Sabar iku ingaran mustikaning laku." -
Ms. Shinta & Paribasan Jowo

Terjemahan

Mari melakukan kebaikan dan senang berdarma-bakti, jangan pernah dihitung-hitung kalau sudah berbuat baik.
Janganlah menyakiti hati orang lain.
Jadi orang jangan cuma merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.
"Sabar itu merupakan sebuah kemampuan untuk menahan segala macam godaan dalam hidup.
Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratnya bagaikan sebuah mustika
(sebuah hal yang sangat indah) dalam praktek kehidupan"
- Bu Shinta & Pepatah Jawa