Showing posts with label Bimbingan Thera. Show all posts
Showing posts with label Bimbingan Thera. Show all posts

Tuesday, June 9, 2026

Kebahagiaan pun Tercurah Kepadanya

 Kebahagiaan pun Tercurah Kepadanya

Artikel reflektif ini terinspirasi dan disusun berdasarkan perenungan atas ovādakathā Bhante Kheminda, serta diperkaya dengan rujukan Tipiṭaka, kitab komentar, dan kajian Abhidhamma Theravāda.

Sukhī hontu kalyāṇamittā.




Tayangan ini merupakan ovādakathā (wejangan singkat yang berisi nasihat) yang disampaikan oleh Bhante Kheminda dalam siaran langsung DBS. Melalui perenungan atas Cakka Sutta (AN 4.31), Bhante mengajak para umat untuk tidak hanya mengejar kebahagiaan, kekayaan, nama baik, atau keberhasilan duniawi, melainkan memahami sebab-sebab yang memungkinkan semua itu muncul dan berkembang.


Sering kali manusia memusatkan perhatian pada hasil. Kita menginginkan kehidupan yang damai, keluarga yang harmonis, kesehatan yang baik, rezeki yang cukup, serta batin yang bahagia. Namun, sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha, setiap akibat memiliki sebab. Kebahagiaan tidak muncul secara kebetulan. Keberhasilan tidak datang tanpa kondisi pendukung. Oleh karena itu, yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah hasilnya, melainkan sebab-sebab yang mengondisikan hasil tersebut.


Dalam Cakka Sutta, Sang Buddha mengajarkan empat "roda" (cattāri cakkāni) yang menopang kemajuan dan keberhasilan kehidupan seseorang. Keempat roda tersebut bukanlah keberuntungan yang turun dari langit, melainkan kondisi-kondisi yang perlu diusahakan dan dipelihara.


Empat Roda Penopang Kehidupan

Kitab komentar menjelaskan:

Cattāri cakkāni: patirūpadesavāso cakkaṃ, sappurisūpanissayo cakkaṃ, attasammāpaṇidhānaṃ cakkaṃ, pubbe katapuññatā cakkaṃ.


"Empat roda itu adalah: tinggal di tempat yang sesuai, bersandar pada orang-orang berbudi luhur, mengarahkan diri dengan benar, dan akumulasi kebajikan yang telah dilakukan sebelumnya."


Menariknya, keempat roda ini tidak berdiri sendiri. Masing-masing menjadi landasan bagi roda berikutnya. Kebajikan yang terkumpul mendukung seseorang untuk mengarahkan dirinya dengan benar. Pengarahan diri yang benar membawanya kepada pergaulan dengan orang-orang bijaksana. Pergaulan dengan orang-orang bijaksana membantunya tinggal di lingkungan yang sesuai bagi perkembangan Dhamma.


1. Tinggal di Tempat yang Sesuai (Patirūpadesavāsa)

Tempat yang sesuai bukan sekadar lokasi yang nyaman secara fisik. Yang lebih penting adalah apakah tempat tersebut mendukung pertumbuhan kebajikan dan perkembangan Dhamma.


Seseorang mungkin tinggal di lingkungan yang makmur, tetapi hampir tidak pernah mendengar Dhamma. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana bisa memperoleh kesempatan berharga untuk mendengarkan ajaran yang benar, bergaul dengan para praktisi yang baik, serta mengembangkan keyakinan dan kebajikan.


Tempat yang sesuai adalah tempat yang memudahkan seseorang bertemu Dhamma, mendengarkan Dhamma, mempraktikkan Dhamma, dan mengingat Dhamma.


Banyak orang menganggap kelahiran sebagai manusia sudah merupakan keberuntungan besar. Memang benar demikian. Namun kelahiran manusia saja belum cukup. Kehidupan yang berharga ini perlu dilengkapi dengan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan Dhamma. Tanpa itu, kehidupan dapat berlalu begitu saja tanpa menghasilkan perkembangan batin yang berarti.


2. Bersandar pada Orang-Orang Berbudi Luhur (Sappurisūpanissaya)

Roda kedua adalah bersandar pada orang-orang yang berbudi luhur.


Dalam makna tertinggi, yang dimaksud adalah bersandar pada Buddha, Dhamma, dan para Ariya. Pada masa kini, ketika Buddha telah Parinibbāna, kita masih dapat bersandar kepada Beliau melalui Dhamma dan Vinaya yang diwariskan dalam Tipiṭaka beserta tradisi penjelasannya yang benar.

Seseorang akan sangat dipengaruhi oleh apa yang ia dengar, siapa yang ia ikuti, dan apa yang ia jadikan pedoman hidup. Karena itu, penting untuk bertanya kepada diri sendiri:


Apakah saya lebih tertarik mendengar hal-hal yang menyenangkan telinga, ataukah saya sungguh ingin memahami Dhamma sebagaimana adanya?


Bersandar kepada orang-orang berbudi luhur berarti membuka hati untuk belajar, menerima koreksi, dan menghargai kebijaksanaan yang lebih tinggi daripada pandangan pribadi.


3. Mengarahkan Diri dengan Benar (Attasammāpaṇidhāna)

Roda ketiga adalah mengarahkan diri dengan benar.


Ini adalah usaha sadar untuk terus memperbaiki diri.

Apabila keyakinan masih lemah, maka keyakinan perlu diperkuat.

Apabila sila masih rapuh, maka sila perlu ditegakkan.

Apabila kemurahan hati masih kurang, maka kemurahan hati perlu dilatih.

Apabila rasa hormat kepada Dhamma belum tumbuh dengan baik, maka rasa hormat itu perlu dipupuk.

Tidak ada seorang pun yang langsung sempurna. Jalan Dhamma adalah proses pembelajaran dan penyempurnaan diri yang berlangsung terus-menerus.


Di sinilah nilai-nilai Dhamma menjadi sangat penting untuk dihidupkan dalam keseharian:

  • Rasa syukur atas kesempatan bertemu Buddha Dhamma.
  • Keyakinan yang teguh kepada hukum kamma dan buahnya.
  • Ketulusan dalam berbuat baik tanpa pamrih.
  • Kasih sayang kepada semua makhluk.
  • Pemaafan terhadap kesalahan diri sendiri maupun orang lain.
  • Kesabaran dalam menghadapi perubahan dan kesulitan.
  • Penerimaan terhadap kenyataan sebagaimana adanya.
  • Kepasrahan yang bijaksana terhadap hukum sebab-akibat yang bekerja dalam kehidupan.


Ketika nilai-nilai ini tumbuh dalam hati, Dhamma tidak lagi sekadar menjadi pengetahuan, melainkan menjadi karakter.


4. Akumulasi Kebajikan (Pubbe Katapuññatā)

Roda keempat adalah kebajikan yang telah dikumpulkan.


Kitab komentar menjelaskan bahwa kebajikan hendaknya dilakukan dengan kesadaran yang disertai pemahaman (ñāṇasampayutta), yaitu dengan mengetahui bahwa tindakan tersebut adalah kebajikan yang membawa manfaat dan kebahagiaan.


Yang menentukan kualitas suatu kebajikan bukan semata-mata tindakan lahiriahnya, melainkan kualitas batin yang menyertainya. Seseorang yang berdana dengan hati penuh syukur, keyakinan, dan kebijaksanaan sedang menanam sebab yang lebih kuat dibandingkan kebajikan yang dilakukan dengan perhatian yang lemah atau tanpa perenungan yang memadai.


Dalam perspektif Abhidhamma, kebajikan yang tidak disertai kebijaksanaan (ñāṇa) termasuk kebajikan dua akar (dvihetuka), sedangkan kebajikan yang disertai kebijaksanaan disebut tiga akar (tihetuka). Oleh karena itu, Sang Buddha menganjurkan agar setiap kebajikan dilakukan dengan kesadaran yang jernih, memahami bahwa perbuatan tersebut adalah kusala kamma yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun makhluk lain.


Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya tindakan kebajikannya, melainkan juga kualitas batin sebelum, selama, dan sesudah kebajikan tersebut dilakukan. Semakin kuat keyakinan, pemahaman, kegembiraan, dan kebijaksanaan yang menyertainya, semakin kuat pula potensi kebajikan yang terakumulasi.


Kebahagiaan pun Tercurah Kepadanya

Setelah menjelaskan empat roda tersebut, Sang Buddha menunjukkan buah yang muncul ketika seseorang memilikinya. Kehidupan yang ditopang oleh lingkungan yang baik, pergaulan yang baik, pengarahan diri yang benar, dan akumulasi kebajikan akan bergerak menuju perkembangan yang semakin baik.


  • Bukan hanya kekayaan yang dapat muncul.
  • Bukan hanya nama baik yang dapat berkembang.
  • Bukan hanya keberhasilan yang dapat bertambah.
  • Tetapi juga kebahagiaan.


Kebahagiaan yang dimaksud bukan sekadar kesenangan sesaat. Kebahagiaan itu lahir dari hati yang selaras dengan Dhamma. Kebahagiaan yang muncul ketika seseorang mengetahui bahwa kehidupannya bergerak ke arah yang benar.


Dalam Aggappasāda Sutta (AN 4.34), Sang Buddha menyatakan:

Aggasmiṃ dānaṃ dadataṃ,
aggaṃ puññaṃ pavaḍḍhati;
aggaṃ āyu ca vaṇṇo ca,
yaso kitti sukhaṃ balaṃ.


"Bagi mereka yang memberikan kepada yang utama/mulia, 

kebajikan yang utama/mulia bertambah. 

Umur panjang, kecemerlangan, 

nama baik (reputasi), kebahagiaan, dan kekuatan pun berkembang."


Perlu dipahami bahwa keberhasilan duniawi bukanlah tujuan akhir Dhamma. Namun, ketika sebab-sebab yang baik dipenuhi, berbagai kondisi kehidupan yang baik juga dapat muncul sebagai buahnya.


Sebuah Perjalanan yang Perlu Dilanjutkan

Mungkin yang paling penting dari seluruh wejangan ini bukanlah memahami teori tentang empat roda, melainkan menjadikannya bahan refleksi pribadi.

  • Apakah saya telah tinggal di lingkungan yang mendukung perkembangan Dhamma?
  • Apakah saya sungguh bersandar kepada orang-orang yang berbudi luhur?
  • Apakah saya terus memperbaiki diri hari demi hari?
  • Apakah saya menanam kebajikan dengan kesadaran, keyakinan, dan kebijaksanaan?


Tidak seorang pun dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu untuk kita. Masing-masing harus melihat ke dalam batinnya sendiri. Karena pada akhirnya, kebahagiaan yang sejati bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain. Kebahagiaan bertumbuh dari sebab-sebab yang kita pelihara sendiri.


Ketika empat roda itu berputar dengan baik, kehidupan pun bergerak menuju arah yang lebih terang. Dan sebagaimana disampaikan oleh Sang Buddha, kepada orang yang demikian, keberhasilan dapat berkembang, kesejahteraan dapat bertambah, dan kebahagiaan pun tercurah kepadanya.


Sabbe sattā sukhitā hontu.
Semoga semua makhluk berbahagia.


Catatan:

Pada bagian pembahasan mengenai ñāṇasampayutta, dvihetuka, kualitas kebajikan, dan hubungan antara kebijaksanaan dengan kualitas kamma, artikel ini juga mempertimbangkan penjelasan Abhidhamma Theravāda sehingga beberapa istilah dijelaskan secara lebih hati-hati dan tidak selalu identik dengan bahasa lisan dalam ceramah.

Sunday, May 21, 2023

Kodhana Sutta

Kemarahan

(Wacana mengenai orang yang emosinya tidak terkendali dan mudah tersinggung)


“Para bhikkhu, ada tujuh hal ini yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah. Apakah tujuh ini?

 

(1) “Di sini, para bhikkhu, seorang musuh menghendaki musuhnya: ‘Semoga ia menjadi berpenampilan buruk!’ Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada penampilan baik musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, walaupun ia mungkin mandi dengan baik, diminyaki dengan baik, dengan rambut dan janggutnya dicukur rapi, berpakaian putih, tetap saja ia berpenampilan buruk. Ini adalah hal pertama yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

 

(2) “Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: ‘Semoga ia tidak tidur lelap!’ Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang ketika musuhnya tidur lelap. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, walaupun ia mungkin tidur di atas dipan beralaskan permadani, selimut, dan alas, dengan penutup dari kulit rusa, dengan kanopi dan guling di kedua sisinya, tetap saja ia tidak tidur lelap. Ini adalah hal ke dua yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

 

(3) “Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: ‘Semoga ia tidak berhasil!’ Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada keberhasilan musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, jika ia memperoleh apa yang berbahaya, ia berpikir: ‘Aku telah memperoleh apa yang bermanfaat,’ dan jika ia memperoleh apa yang bermanfaat, ia berpikir: ‘Aku telah memperoleh apa yang berbahaya.’ Ketika, dengan dikuasai kemarahan, ia memperoleh hal-hal yang bertentangan ini, hal-hal itu akan mengarah pada bahaya dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama. Ini adalah hal ke tiga yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

 

(4) “Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: ‘Semoga ia tidak menjadi kaya!’ Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada kekayaan musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, raja-raja akan menyerahkan kepada bendahara kerajaan segala kekayaan yang telah ia peroleh melalui usaha bersemangat, yang dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, yang didapatkan dengan keringat di keningnya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik. Ini adalah hal ke empat yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

 

(5) “Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: ‘Semoga ia tidak menjadi termasyhur!’ Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada kemasyhuran musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, ia kehilangan segala kemasyhuran yang telah ia peroleh melalui kewaspadaan. Ini adalah hal ke lima yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

 

(6) “Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: ‘Semoga ia tidak memiliki teman!’ Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang jika musuhnya memiliki teman. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, maka teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan anggota keluarganya, menghindarinya dari jauh. Ini adalah hal ke enam yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

 

(7) “Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: ‘Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, semoga ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka!’ Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang jika musuhnya pergi ke alam tujuan yang baik. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, ia melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Sebagai akibatnya, dengan masih dikuasai oleh kemarahan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Ini adalah hal ke tujuh yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

 

“Ini adalah ketujuh hal itu yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.”

 

Orang yang marah berpenampilan buruk;
ia juga tidak tidur lelap;
setelah memperoleh sesuatu yang bermanfaat,
ia menganggapnya berbahaya.

 

Orang yang marah
dikuasai oleh kemarahan,
setelah membunuh melalui jasmani dan ucapan,
menimbulkan kehilangan kekayaan.

 

Menjadi gila karena kemarahan
ia memperoleh reputasi buruk.
Sanak saudaranya, teman-temannya, dan mereka yang ia sayangi
menghindari orang yang marah.

 

Kemarahan adalah penyebab bahaya;
kemarahan memicu kerusuhan.
Orang-orang tidak mengenali bahaya
yang telah muncul dari dalam.

 

Orang yang marah tidak mengetahui apa yang baik;
orang yang marah tidak melihat Dhamma.
Hanya ada kebutaan dan kegelapan pekat,
ketika kemarahan menguasai seseorang.

 

Ketika seorang yang marah menimbulkan kerusakan,
apakah dengan mudah atau dengan susah-payah,
kelak, ketika kemarahannya sirna,
ia menjadi tersiksa seolah-olah terbakar api.

 

Ia menunjukkan sikap melawan
seperti api di puncak yang berasap.
Ketika kemarahannya menyebar ke luar,
orang-orang menjadi marah karenanya.

 

Ia tidak memiliki rasa malu terhadap kesalahan,
ucapannya tidak penuh hormat;
seorang yang dikuasai kemarahan
tidak memiliki pulau [keselamatan] sama sekali.

 

Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang perbuatan-perbuatan
yang menghasilkan siksaan.
Dengarkanlah sebagaimana adanya,
jauh dari mereka yang baik:

 

Seorang yang marah membunuh ayahnya;
seorang yang marah membunuh ibunya sendiri;
seorang yang marah membunuh seorang brahmana;
seorang yang marah membunuh seorang duniawi.

 

Seorang duniawi yang marah membunuh ibunya,
perempuan baik yang memberikannya kehidupan,
seorang yang darinya ia diberi makan
dan yang menunjukkan dunia ini kepadanya.

 

Orang-orang itu, seperti diri sendiri,
masing-masing paling menyayangi diri mereka sendiri;
namun mereka yang marah membunuh diri mereka sendiri dalam berbagai cara
ketika mereka kebingungan sehubungan dengan berbagai persoalan.

 

Beberapa orang membunuh diri mereka sendiri dengan pedang;
beberapa orang yang kebingungan menelan racun;
beberapa orang menggantung diri mereka dengan tali;
beberapa orang [terjun] ke dalam jurang di gunung.

 

Perbuatan-perbuatan yang melibatkan penghancuran kemajuan
dan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kematian mereka sendiri:
ketika melakukan perbuatan-perbuatan demikian mereka tidak tahu
bahwa kekalahan muncul dari kemarahan.

 

Demikianlah jerat kematian yang tersembunyi dalam pikiran
telah mengambil wujud kemarahan.
Seseorang harus memotongnya melalui pengendalian-diri,
kebijaksanaan, kegigihan, dan pandangan [benar].

 

Orang yang bijaksana harus melenyapkan
[kualitas] tidak bermanfaat ini.
Dengan cara demikianlah seseorang harus berlatih dalam Dhamma:
tidak memberi jalan pada sikap melawan.

 

Bebas dari kemarahan, kesengsaraan mereka sirna,
bebas dari delusi, tidak lagi ketagihan,
jinak, setelah meninggalkan kemarahan,
mereka yang tanpa noda mencapai nibbāna.

 

 

Source 經源:
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Aṅguttaranikāya - Sattakanipātapāḷi - 6. abyākatavaggo - 11. Kodhanasuttaṃ
तिपिटक - सुत्तपिटक - अङ्गुत्तरनिकाय - सत्तकनिपातपाळि - ६. अब्याकतवग्गो - ११. कोधनसुत्तं
三藏經 - 經藏 - 增支部 - 第七集 - 第六,無記品 - 第十一,憤怒經
三藏经 - 修多罗经 - 增一尼迦耶 - 第七集 - 第六,无记品 - 第十一, 容易生气,脾气暴躁经

Thursday, January 23, 2020

Accaya Sutta

‘‘Tīhi , bhikkhave, dhammehi samannāgato bālo veditabbo. Katamehi tīhi? Accayaṃ accayato na passati, accayaṃ accayato disvā yathādhammaṃ nappaṭikaroti, parassa kho pana accayaṃ desentassa yathādhammaṃ nappaṭiggaṇhāti. Imehi kho, bhikkhave, tīhi dhammehi samannāgato bālo veditabbo.


‘‘Tīhi, bhikkhave, dhammehi samannāgato paṇḍito veditabbo. Katamehi tīhi? Accayaṃ accayato passati, accayaṃ accayato disvā yathādhammaṃ paṭikaroti, parassa kho pana accayaṃ desentassa yathādhammaṃ paṭiggaṇhāti. Imehi kho, bhikkhave, tīhi dhammehi samannāgato paṇḍito veditabbo. Tasmātiha…. Catutthaṃ.


Sutta tentang Kesalahan (Accayasuttaṃ)

“Para Bhikkhu, seseorang yang memiliki tiga sifat ini dapat dikenal sebagai orang bodoh. Apa saja tiga itu? Ia tidak melihat kesalahan sebagai kesalahan, setelah melihat kesalahan, ia tidak memperbaikinya sebagaimana mestinya, dan ketika seseorang menunjukkan kesalahannya dengan cara yang benar, ia tidak menerimanya. Dengan tiga sifat ini, seseorang dapat dikenal sebagai orang bodoh.


“Sebaliknya, seseorang yang memiliki tiga sifat ini dapat dikenal sebagai orang bijak. Apa saja tiga itu? Ia melihat kesalahan sebagai kesalahan, setelah melihat kesalahan, ia memperbaikinya sebagaimana mestinya sesuai Dhamma, dan ketika terdapat seseorang yang mengakui kesalahannya, ia memaafkan kesalahan orang tersebut. Dengan tiga sifat ini, orang tersebut dapat dikenal sebagai orang nan bijaksana.


“Oleh karena itu, para Bhikkhu, hendaklah kalian berlatih demikian….”



巴利原文 Source:

तिपिटक - सुत्तपिटक - अङ्गुत्तर निकाय - तिकनिपात - १। बालवग्गो - ४। अच्चयसुत्तं

tipiṭaka (mūla) - suttapiṭaka - aṅguttara nikāya - tikanipāta - 1. bālavaggo - 4. accayasuttaṃ

《三藏》—《经藏》—《增支部》—《三法集》—《愚者品》—《过失经》

Tuesday, June 30, 2015

Cula Rahulovada Sutta

चूळराहुलोवादसुत्तं
Cūḷarāhulovādasuttaṃ


४१९. ‘‘एवं पस्सं, राहुल, सुतवा अरियसावको चक्खुस्मिं [चक्खुस्मिम्पि (स्या॰ कं॰) एवमितरेसुपि] निब्बिन्दति, रूपेसु निब्बिन्दति, चक्खुविञ्ञाणे निब्बिन्दति, चक्खुसम्फस्से निब्बिन्दति, यमिदं चक्खुसम्फस्सपच्चया उप्पज्जति वेदनागतं सञ्ञागतं सङ्खारगतं विञ्ञाणगतं तस्मिम्पि निब्बिन्दति। सोतस्मिं निब्बिन्दति, सद्देसु निब्बिन्दति…पे॰… , घानस्मिं निब्बिन्दति, गन्धेसु निब्बिन्दति… जिव्हाय निब्बिन्दति, रसेसु निब्बिन्दति… कायस्मिं निब्बिन्दति, फोट्ठब्बेसु निब्बिन्दति…
‘‘Evaṃ passaṃ, rāhula, sutavā ariyasāvako cakkhusmiṃ [cakkhusmimpi (syā. kaṃ.) evamitaresupi] nibbindati, rūpesu nibbindati, cakkhuviññāṇe nibbindati, cakkhusamphasse nibbindati, yamidaṃ cakkhusamphassapaccayā uppajjati vedanāgataṃ saññāgataṃ saṅkhāragataṃ viññāṇagataṃ tasmimpi nibbindati. Sotasmiṃ nibbindati, saddesu nibbindati…pe… , ghānasmiṃ nibbindati, gandhesu nibbindati… jivhāya nibbindati, rasesu nibbindati… kāyasmiṃ nibbindati, phoṭṭhabbesu nibbindati…

मनस्मिं निब्बिन्दति, धम्मेसु निब्बिन्दति, मनोविञ्ञाणे निब्बिन्दति, मनोसम्फस्से निब्बिन्दति, यमिदं मनोसम्फस्सपच्चया उप्पज्जति वेदनागतं सञ्ञागतं सङ्खारगतं विञ्ञाणगतं तस्मिम्पि निब्बिन्दति। निब्बिन्दं विरज्जति, विरागा विमुच्चति। विमुत्तस्मिं विमुत्तमिति ञाणं होति। ‘खीणा जाति, वुसितं ब्रह्मचरियं, कतं करणीयं, नापरं इत्थत्ताया’ति पजानाती’’ति।
manasmiṃ nibbindati, dhammesu nibbindati, manoviññāṇe nibbindati, manosamphasse nibbindati, yamidaṃ manosamphassapaccayā uppajjati vedanāgataṃ saññāgataṃ saṅkhāragataṃ viññāṇagataṃ tasmimpi nibbindati. Nibbindaṃ virajjati, virāgā vimuccati. Vimuttasmiṃ vimuttamiti ñāṇaṃ hoti. ‘Khīṇā jāti, vusitaṃ brahmacariyaṃ, kataṃ karaṇīyaṃ, nāparaṃ itthattāyā’ti pajānātī’’ti.

इदमवोच भगवा। अत्तमनो आयस्मा राहुलो भगवतो भासितं अभिनन्दीति। इमस्मिञ्च पन वेय्याकरणस्मिं भञ्ञमाने आयस्मतो राहुलस्स अनुपादाय आसवेहि चित्तं विमुच्चि। तासञ्च अनेकानं देवतासहस्सानं विरजं वीतमलं धम्मचक्खुं उदपादि – ‘यं किञ्चि समुदयधम्मं सब्बं तं निरोधधम्म’’न्ति।
Idamavoca bhagavā. Attamano āyasmā rāhulo bhagavato bhāsitaṃ abhinandīti. Imasmiñca pana veyyākaraṇasmiṃ bhaññamāne āyasmato rāhulassa anupādāya āsavehi cittaṃ vimucci. Tāsañca anekānaṃ devatāsahassānaṃ virajaṃ vītamalaṃ dhammacakkhuṃ udapādi – ‘yaṃ kiñci samudayadhammaṃ sabbaṃ taṃ nirodhadhamma’’nti.


Bahasa Indonesia
“Mengerti akan hal itu, oh Rahula, siswa dari Yang Luhur nan Agung [Bhagava] tumbuh dengan membebaskan batin dari keterikatan terhadap apa yang diterima dari panca indera, tidak memiliki ketertarikan terhadap bentuk [rupa], bentuk bentuk pikiran yang muncul melalui panca indera, dan terbebasnya ketertarikan atau kemelekatan – berkeinginan terhadap sentuhan dari panca indera.

Dan apapun yang muncul dengan sendirinya itu, yang berkaitan dengan sentuhan dari panca indera berupa perasaan, menaruh minat atau meresponi dengan penuh keinginan – napsu halus disanubari [pencerapan] , atau muncul fantasi ataupun daya cipta pikiran, ataupun munculnya batin mengikat –memegang erat didalam ketertarikan. Demikianlah, mereka meninggalkan semua kemelekatan [ketertarikan] dari apa yang muncul melalui panca indera.”

Ia tidak tertarik dengan segala kecerdikan atau kecepatan daya pikir [intelek], ide ide yang muncul dalam batin, segala pencerapan sebatas intelektual semata, ia tidak tertarik dengan hal hal yang berhubungan dengan gerak gerik pikiran [intelek] dalam batin tersebut.

Dan apapun yang muncul dengan sendirinya itu, yang terkait dengan gerak gerik pikiran berupa perasaan, menaruh minat atau meresponi dengan penuh keinginan – napsu halus disanubari [pencerapan] , atau muncul fantasi ataupun daya cipta pikiran, ataupun munculnya batin mengikat –memegang erat didalam ketertarikan terhadap gerak gerik pikiran tersebut telah ditinggalkan, ia menjadi tidak tertarik dengan hal hal tersebut.

Dengan tanpa adanya ketertarikan, ia telah terbebas sepenuhnya, muncullah pengetahuan sejati, “yang sepenuhnya terbebaskan”, Ia memahami bahwa kelahiran telah dipatahkan, kehidupan suci telah terpenuhi, segala tugas telah rampung – selesai dijalani. tidak ada hal yang harus diselesaikan dalam kehidupan ini.


English Translation

"Seeing thus, Rahula, the instructed disciple of the noble ones grows disenchanted with the eye, disenchanted with forms, disenchanted with consciousness at the eye, disenchanted with contact at the eye.

And whatever there is that arises in dependence on contact at the eye as a mode of feeling, a mode of perception, a mode of fabrication, or a mode of consciousness: With that, too, he grows disenchanted.

"He grows disenchanted with the ear...
"He grows disenchanted with the nose...
"He grows disenchanted with the tongue...
"He grows disenchanted with the body...

"He grows disenchanted with the intellect, disenchanted with ideas, disenchanted with consciousness at the intellect, disenchanted with contact at the intellect.

And whatever there is that arises in dependence on contact at the intellect as a mode of feeling, a mode of perception, a mode of fabrication, or a mode of consciousness: With that, too, he grows disenchanted. Disenchanted, he becomes dispassionate.

Through dispassion, he is fully released. With full release, there is the knowledge, 'Fully released.' He discerns that 'Birth is depleted, the holy life fulfilled, the task done. There is nothing further for this world.'"





Source:
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - मज्झिमनिकाय - उपरिपण्णास - ५. सळायतनवग्गो - ५. चूळराहुलोवादसुत्तं
Tipiṭaka (Mūla) - Suttapiṭaka - Majjhimanikāya - Uparipaṇṇāsa - 5. Saḷāyatanavaggo - 5. Cūḷarāhulovādasuttaṃ


Pesan orang tua

Ayo ngelakoni apik, sing seneng weweh, (pokok'e nek kasih sesuatu aja diitung) aja nglarani atine uwong.
Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa.
"Sabar iku lire momot kuat nandhang sakening coba lan pandhadharaning urip. Sabar iku ingaran mustikaning laku." -
Ms. Shinta & Paribasan Jowo

Terjemahan

Mari melakukan kebaikan dan senang berdarma-bakti, jangan pernah dihitung-hitung kalau sudah berbuat baik.
Janganlah menyakiti hati orang lain.
Jadi orang jangan cuma merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.
"Sabar itu merupakan sebuah kemampuan untuk menahan segala macam godaan dalam hidup.
Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratnya bagaikan sebuah mustika
(sebuah hal yang sangat indah) dalam praktek kehidupan"
- Bu Shinta & Pepatah Jawa